Taufiq juga memiliki pemahaman dan pengalaman politik yang akhirnya melibatkan dia menjadi Tenaga Ahli Gubernur Sulawesi Utara tahun, Tenaga Fraksi DPRD Provinsi Sulut, Panwaslu Kota Manado, Tim Seleksi Anggota KPUD Sulawesi Utara, Timsel Jabatan Sekretaris KPUD Sulawesi Utara, Panitia Seleksi Jabatan di beberapa kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Utara. Selain itu, Taufiq juga sering menjadi pembicara dalam berbagai forum ilmiah nasional, baik di bidang Medis kedokteran, Sosial Keagamaan hingga memberikan pelatihan pada Lembaga negara Seperti Komisisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Meskipun berkaris sampai ke pusat hingga hari ini menjabat sebagai Dekan Fakultas Kedokteran UPN Veteran Jakarta, Taufiq tidak pernah lupa dengan jati dirinya sebagai cendekiawan-aktivis. Di kampung halamannya di Manado, rumah tempat tinggal Taufiq “dihibahkan” untuk menjadi tempat perkaderan HMI. Semuan anak beliau yang kuliah, bahkan disuruh ikut perkaderan di HMI. Beliau menyediakan tempat khusus di rumahnya untuk digunakan sebagai lokasi pelatihan Kader, memberikan bantuan logistik hingga menanggung keperluan selama perkaderan. Bagi kader-kader yang datang dari luar kota Manado, sosok Taufiq sangat berkesan. Hal ini karena, Taufiq selalu mejadi “pertahanan terakhir” para kader HMI yang “kehilangan” arah dan mengharap bantuan dari para senior. Taufiq selalu menjadi tujuan terakhir para kader mengharapkan bantuan dana untuk Kembali ke tempat asal masing-masing.
Nah, ada satu hal atau kebiasaan yang menurut saya hanya ada pada sosok cendekiawan seperti Taufiq yang menurut saya sulit ditemukan pada orang lain. Sebagai seorang ilmuwan di bidang kedokteran, Taufiq sering diundang menjadi pembicara dalam berbagai seminar nasional. Dalam 1 tahun, beliau bisa puluhan kali melakukan perjalanan luar kota. Bahkan beberapa kota dalam waktu kurang dari 1 minggu. Dalam setiap perjalanan ke luar kota, yang sudah dilakoni selama puluhan tahun, beliau selalu membawa putra atau putrinya sebagai pendamping perjalanan. Sewaktu saya bertanya, “apakah dokter pernah melakukan perjalanan tanpa membawa serta anak?”. Kata beliau, “selalu saya bawa anak saya. Gantian. Agar mereka belajar banyak dari perjalanan”. Bahkan untuk bertemu dengan tokoh nasional di Istana presiden, beliau membawa putra beliau masuk ke dalam. Hal ini mungkin sederhana, tapi bagi saya justru sangat berkesan. Di antara kesibukan sebagai ilmuwan, sosok Taufiq memberikan perhatian lebih bagi anak-anaknya, yang 3 diantaranya telah menempuh Pendidikan dokter dan sudah menjadi dokter.
Puluhan tahun saya mengenal Taufiq, saya melihat marwah kecendekiawan HMI pada diri Taufiq. Kapasitas intelektual yang memadai, kepedulian sosial yang tinggi serta komitmen terhadap HMI yang telah dilakukan selama bertahun-tahun. Di zaman Ketika kader-kader HMI banyak yang berkecimpung di dunia politik praktis, Taufiq bisa menjadi penyeimbang yang masih konsisten dengan kecendekiawanan HMI.
Oleh: Muhammad Iqbal Suma, S.HI., MH.
(Peneliti, penulis, penerjemah dan aktivis)
