
Manado, BeritaManado.com — Bahasa lockdown kini populer bahkan telah menjadi trending topic yang begitu hangat dibicarakan saat dunia di serang wabah Corona Virus Disease 2019 (COVID-19).
Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Manado periode 2018 hingga 2019, Muhammad Fadly Ibrahim mengaku dirinya mengenal kata lockdown akibat penyebaran pandemi Covid-19.
“Di beberapa negara telah memutuskan untuk melakukan lockdown dan ada beberapa negara juga yang mau menempuh jalur yang sama termasuk Indonesia. Saya rasa teman-teman di luar sana terlebih khusus masyarakat Kota Manado dan Sulawesi Utara (Sulut) pada umumnya pasti sudah tidak asing lagi mengenal istilah tersebut,” kata Muhammad Fadly Ibrahim yang akrab disapa Pipo, saat diwawancarai BeritaManado.com, Kamis (2/4/2020).
Namun di sini, lanjut Muhammad Fadly menuturkan ketika ditanyakan soal penting atau tidak Manado maupun Sulut untuk menjalankan protokol lockdown.
“Bagi saya ketika pertimbangannya hanya di soal penyebaran wabah Covid-19 maka saya belum sepakat terkait hal itu, karena kalau berbicara soal lockdown di suatu negara atau daerah kita harus punya spesifikasi maupun item-item yang harus dipenuhi saat mau menjalankan protokol terasebut,” ujar Muhammad Fadly.
Dimosioner Ketua Majelis Permusyawaratan Masiswa (MPM) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) juga mejelaskan spesifikasinya antara lain yakni bagiamana soal kesiapan ketika perputaran ekonomi dan hubungan antar daerah mengenai soal-soal srategis di Manado maupun Sulut menjadi terhenti ketika protokol tersebut dijalankan.
“Belum lagi, jika dilihat dari kesiapan dari berbagai elemen masyarakat Kota Manado maupun secara keseluruhan untuk menghadapi situasi ketika di tutup semua akses yang dapat menopang kehidupan sehari-hari utamanya di soal pendidikan, sosial, kemasyarakatan, ekonomi serta lain-lain,” ucapnya.
Dari dua hal tersebut, Pipo melanjutkan ketika mampu di jawab dan dipertanggungjawabkan oleh seluruh elemen masyarakat baik itu pemerintah maupun masyarakat maka sistem ini bisa diterapkan.
“Jika penyebaran wabah Covid-19 sudah sangat masif di Kota Manado atau Sulut, maka bisa dan harus diberlakukan sitem lockdown,” tegasnya.
Terkait antisipasi penyebaran Covid-19, Pipo menilai intruksi pemerintah baik dari pusat sampai daerah terkait social distancing dalam hal ini mengurangi aktifitas di luar rumah seperti interaksi sosial, menghindari tempat keramaian, jaga jarak ketika beraktivitas di luar rumah yang di anggap sangat penting, sudah sangat efisien.
“Bagi saya, intruksi dan imbauan dari pemerintah itu sudah sangat efisien ketika kita berbicara mengenai pencegahan penyebaran Covid-19 tersebut di wilayah kota Manado khususnya dan Sulut pada umumnya, sekarang hanya bagaimana kita sama-sama memanfatkan segala bentuk sosial media (Sosmed) untuk saling membantu membangun kesadaran masyarakat bahwa penting untuk dipahami mengenai social distancing,” jelasnya.
Lebih lanjut, Pipo berpesan untuk semua masyarakat boleh wasapadah tapi jangan berlebihan apalagi panik.
“Kita boleh takut tapi ingat kita semua masi mempunyai Tuhan, selalu panjatkan doa semoga daerah ini tetap terjaga dan terlindungi dari segala marabahaya,” tandasnya.
(Rei Rumlus)
