Buktinya selama memimpin PDIP di Sulawesi Utara tidak pernah ada gejolak dalam tubuh PDIP yang mengancam persatuan dan keutuhan partai, sedangkan budaya konflik yang begitu tinggi saat PDI, diwarisi oleh warga PDI yang kemudian berbaju PDIP.
Kenyataan ini membuktikan bahwa almarhum adalah seorang pemimpin yang diakui, dihormati dan disegani oleh anak buahnya.
Walau kami berdua pernah berpisah jalan serta mungkin ada ungkapan-ungkapan tajam untuk saling membenarkan pilihan jalan kami masing-masing, namun diantara kami tidak ada dendam.
Kami berdua menganut prinsip setajam apapun perbedaan yang ada, kami tetap teman sejati.
Perbedaan tidak boleh membuat putus pertemanan kita. Jika bertemu kami saling sapa dan ngobrol penuh keakraban.
Sewaktu almarhum di opname di Rumah Sakit Cikini beberapa kali, kami sempat menjenguk baik sendiri maupun bersama Sabam Sirait dan Ibu Sabam serta Max Siso.
Kami ngobrol lepas dan dan penuh canda. Tidak ada beban sejarah masa lalu.
Almarhum adalah orang yang sangat menghormati Guru politiknya yaitu Sabam Sirait yang dijadikan sebagai panutan, nara sumber, tempat bertanya dan tempat curhat.
Pengamatan kami almarhum sangat setia pada gurunya dan tidak ada sikap dan prilaku untuk mengkhianatinya.
Almarhum tidak akan layu atas rayuan, tidak akan goyah atas godaan untuk kepentingan sesaat dan sesat kemudian mengkhianati gurunya yang bernama Sabam Sirait.
Jumat, 11 Desember 2014, Freddy telah dipanggil Tuhan kembali ke pangkuanNya. Kita kehilangan seorang Politisi yang Piawai, ulet dan berwibawa.
Semoga nilai-nilai Keteladanan Freddy sebagaimana kami goreskan diatas bisa diwarisi oleh Generasi Penerus PDIP dan politisi lainnya dalam perjuangannya membangun daerah, bangsa dan tanah air tercinta INDONESIA
Selamat jalan Freddy, terima kasih atas perjuangan dan keteladananmu. Semoga Surga Kekal yang dijanjikan oleh Allah pencipta kita menjadi tempat pemukimanmu yang baru. Rest In Peace. Amin.
Jakarta,16 Desember 2014.
Markus Wauran
(*/sanlylendongan)
