Berita Utama

Bacaleg Pas-Pasan Mulai Mengundurkan Diri?

Bendera partai
Bendera partai

Tombariri – Pertarungan politik memperebutkan kursi parlemen belum dimulai, namun bakal calon legislatif (bacaleg) sudah ada yang mengundurkan diri. Menurut informasi, salah satu bacaleg Partai Nasional Demokrat (NasDem) dari daerah pemilihan satu telah mengajukan pengunduran diri. Dia adalah Wisye Tulong. Dugaan sementara mengarah pada kondisi finansial yang pas – pasan.

Namun menurut Wisye sendiri, pengunduran dirinya sama sekali tidak berhubungan dengan kondisi finansial. Menurutnya saat pertama kali memutuskan bergabung dengan Partai NasDem, dirinya sudah mempersiapkan kekuatan finasial sebagai biaya operasional.

“Saya mengundurkan diri bukan karena alasan finansial, namun lebih dari pertimbangan kesiapan mental. Biarpun kita sudah mempersiapkan biaya politiknya, namun kita juga perlu mempertimbangkan kemungkinan yang akan terjadi. Dalam hal ini, saya mungkin harus banyak belajar lagi. Yang pasti kalau berbicara dukungan, saya masih akan mendukung kader dari Partai NasDem,” ujar Wisye.(ang)

4 tanggapan untuk “Bacaleg Pas-Pasan Mulai Mengundurkan Diri?”

  1. Berdasarkan Survey lembaga tertentu , ternyata rakyat Sulut paling matre (mata duitan) dibandingkan rakyat propinsi lain , soitu praktek money politic paling sukses di Sulut tanpa memandang latar belakang agama . Pilkada Mitra dan Pilkada Kotamobagu so jadi bukti otentik bhw money politic sukses di Sulut . Tidak ada guna itu survey elektabilitas . Biar Calon populer ndak mo terpilih kalu payah di dana . Sebaliknya Calon tidak dikenal mo terpilih kalu kuat ba ambor doi

  2. perkenalkan nama saya yanuardi abraham saya dipercayakan oleh partai bulan bintang untuk menjadi Caleg sulut dgn No urut 6. apapun yg dapat saya bantu silahkan add saya di fb dengan alamat [email protected] atau pin bb saya 32feb96c atas perhatiannya sy ucapkan terima kasih… Salam hangat YANUARDI

  3. kalau seandainya saya ditetapkan dalam daftar calon tetap sebagai Caleg Propinsi Sulut ( 88) walaupun saya kurang atau tdk ada doi tdk akan mundur ( memang ndk boleh lagi ) dan apatis . Justru saya mau mengukur apakah pemilih di Dapil 6 ( di Minahasa dan Tomohon ) memilih caleg karena pertimbangan agama, suku dan duit atau karena kualitas dan pengalaman. Saya beragama Islam dan istri saya berasal dari agama kristen. Saja suku campuran jawa minahasa ( Jaton ) dan istri keluarga besar Lumopa Lontaan dan Rumbayan Kandou. Saya punya pendapat bahwa orang Minahasa itu termasuk Tomohon mempunyai sikap yang mengutamakan wawasan kebangsaan dimana kesetiaan tertinggi diberikan kepada negara tanpa membeda-bedakan agama dan suku.Fakta dilapangan menunjukkan orang Minahasa bisa jadi Bupati di Poso yang mayoritas Islam, Dan Orang Jaton pernah bisa jadi Hukum Tua di Remboken kata teman searisan yang beragama kristen. dI Era reformasi yang mengutamakan prinsip persamaan ( equity ) yang secara yuridis tidak menganut dominasi mayoritas terhadap minoritas sangat dipahami masyarakat Minahasa termasuk Tomohon yang lebih menghargai profesionalitas dan pengalaman. Oleh karena itu saya memberanikan diri maju sebagai caleg dapil 6 itu walaupun kurang atau ndak ada doi.

  4. Fenomena money politic di Pilkada punya pengaruh pada Pilcaleg . Pilkada Minahasa Rp100 ribu per pemilih . Pilkada Mitra Rp200 ribu per pemilih . Pilkada Kotamobagu Rp400 ribu per pemilih . Mungkin Pilkada Talaud yg akan digelar Oktober 2013 , ongkos politik jadi Rp800 ribu per pemilih . Seharusnya Mahkamah Konstitusi bertindak tegas , spy money politic bisa brenti . Kase batal kwa yg menang dgn money politic

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara