
Jakarta, BeritaManado.com — Siapa yang tidak kenal dengan Jepang, negara kepulauan di Benua Asia yang terkenal dengan kemajuan di bidang teknologinya.
Tidak hanya itu, Jepang juga dikenal dengan negara yang menerapkan aturan ketat, terutama yang berhubungan dengan disiplin kerja dan kehidupan sosial, khususnya di wilayah perkotaaan.
Namun siapa sangka, dibalik kemeriahan kehidupan sosial di kota-kota besar seperti Tokyo, Kyoto, Osaka dan lainnya, tersimpan fakta mengkhawatirkan bagi masa depan negara yang terkenal dengan keindahan bunda sakuran dan Gunung Fuji Yama.
Penelusuran BeritaManado.com melalui beberapa sumber literatur dan arsip video di Channel Youtube, ditemukan ternyata ada sebuah fenomena yang sudah lama terjadi dan terus alami peningkatan setiap tahunnya.
Fenomena itu dikenal dengan sebutan Akiya, dimana ada begitu banyak rumah di wilayah pedesaan tidak lagi ditinggali oleh pemiliknya karena hijrah ke kota untuk mencari pekerjaan.
Sederhananya Akiya bisa diartikan sebagai fenomena rumah kosong, dimana hal tersebut turut diperparah dengan kondisi demografi yang menunjukkan rendahnya tingkat kelahiran.
Dengan terus berlanjutnya fenomena Akiya dan ditambah rendahnya tingkat kelahiran, maka populasi warga di Jepang khususnya wilayah pedesaan terancam punah.
Terkait hal ini, Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asalh Sulawesi Utara Maya Rumantir yang pada pertengahan tahun 2025 lalu pernah berkunjung ke Jepang dalam agenda Kunjungan Kerja DPD RI mengatakan hal serupa.
Kepada BeritaManado.com, Minggu (1/2/2026) mengatakan bahwa waktu saya berkunjung ke Jepang saya sempat mendengar hal serupa, dimana memang benar angka kelahiran di Jepang memang mengalami penurunan setiap tahunnya.
“Hal ini tentu saja menjadi keprihatinan bersama. Namun Pemerintah Jepang hingga kini terus bekerja untuk mencari solusi terbaik untuk mempertahankan populasi, dimana salah satunya dengan tetap menerima para pekerja dari luar, salah satunya Indonesia dengan tetap menerapkan aturan yang ketat,” ungkap Maya Rumantir.
(Frangki Wullur)
