TERTINGGI DI ASIA
Data yang dihimpun dari Unicef, Indonesia, salah satu negara dengan angka kasus hoax tentang COVID-19 tertinggi di Asia.
Sebuah survei nasional yang dilaksanakan pada tahun 2020 menemukan bahwa antara 64 hingga 79 persen responden tidak dapat mengenali misinformasi di dunia maya.
Mayoritas responden di dalam survei yang dilaksanakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika dan Katadata Insight Center (KIC) ini juga menyatakan media sosial sebagai sumber informasi mereka yang utama.
Dampak dari misinformasi yang menjadi viral tidak berhenti di ranah media sosial.
Pengguna media sosial yang menemukan dan memercayai hoaks di sebuah platform daring sering kali menyampaikan kembali kabar itu kepada orang lain secara pribadi.
Akibatnya, rasa takut dan cemas serta informasi keliru perihal pengobatan menjalar melampaui media sosial.
Isu mengenai hoaks Covid-19 mendominasi pemberitaan sejak pandemi 2020.
Kementerian Kominfo mencatat sebanyak 5.829 hoaks seputar Covid-19 beredar di media sosial, dengan temuan isu mencapai 2.171 konten per 17 April 2022.
Hoaks seputar Covid-19 beredar lewat Facebook mencapai 5.109 unggahan, Twitter sebanyak 577 unggahan, YouTube mencapai 55 unggahan, Instagram dengan 52 unggahan, dan TikTok dengan 36 unggahan.
Kemkominfo pun telah menangani hoaks seputar Covid-19 untuk menghentikan sebarannya, pada periode yang sama sebanyak 5.599 hoaks seputar Covid-19 telah ditindaklanjuti dan 767 konten telah diserahkan ke penegak hukum.
Sebaran hoaks seputar Covid-19 yang terus meningkat harus diwaspadai, agar masyarakat tidak dirugikan karena mempercayai informasi palsu.
Jumlah sebaran hoaks seputar Covid-19 pada 17 April 2022 mengalami kenaikan dibandingkan pada 16 April 2022, dimana sebanyak 5.825 hoaks seputar Covid-19 beredar di media sosial dan temuan isu mencapai 2.171 konten pada 16 April 2022.
Masyarakat Anti Fitnah (Mafindo) menemukan hoax yang berkaitan dengan pandemi Covid-19 di tanah air.
Presidium Mafindo Bidang Periksa Fakta Eko Juniarto mengatakan, ada sejumlah hoax yang melibatkan anak-anak di tengah pandemi Covid-19.
Berita seorang anak di China yang disuapi berudu hidup sempat viral di media sosial.
Berita tersebut ditulis dengan narasi “Korelasi video anak disuapi berudu hidup dengan virus corona”.
Mafindo menegaskan, hal tersebut tidaklah benar karena foto tersebut diambil pada April 2018, atau sebelum pandemi Covid-19.
“Ini anak kecil diberikan cebong ini sebenarnya kejadian viral April 2018. Ini kemudian diviralkan lagi Januari 2020, seolah-olah ini virus di China”, ungkap Eko saat berbicara di forum World Vaccine Update (26/7).
