MANADO – Bicara soal bagaimana mengatasi kemacetan di Kota Manado, ternyata menggelitik mantan Pelaksana tugas (Plt) Wali Kota Manado, Abdi Buchari SE MSi. Baginya persoalan utama yang harus diketahui, saat ini jumlah kendaraan tidak sebanding lagi dengan panjang jalan di Manado, Selasa (6/12).
”Jadi misalkan begini, jumlah angkot yang ideal di Manado dengan panjang jalan yang ada harusnya 2.500 unit. Namun, kini jumlah angkotnya sudah diatas 5 ribu unit. Belum lagi kendaraan baru yang setiap bulan terus dipasok dealer, ”ujar Abdi.
Begitu juga sepeda motor yang terus bertambah dengan cepatnya. Hal ini juga kata Abdi yang memicu pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Bensin (Premium) maupun solar tak bisa memenuhi kebutuhan. ”Khan BBM bersubsidi ini kuotanya untuk Sulut sudah ditentukan, dan dianggarkan melalui APBN untuk masyarakat miskin maupun tidak miskin, sehingga lucu kalau Pemerintah Daerah selalu mengusulkan agar orang kaya, dan pemerintah jangan memakai BBM bersubsidi, ”ujarnya.
Abdi menambahkan, subsidi BBM ini berbeda dengan beras miskin (Raskin) yang diperuntukkan bagi keluarga miskin yang memang nama-nama penerima Raskin sudah tercatat, sehingga orang kaya ataupun yang tidak tercacat tidak akan mendapatkan beras murah tersebut. ”Jadi kalau ada juga yang mengusulkan penambahan SPBU di Manado, itu bukan solusi. Karena kuota BBM untuk Manado, dan Sulut secara keseluruhan sudah ditentukan oleh pusat, ”ujarnya sambil menambahkan, bahwa dia tidak mengetahui apakah anggota DPRD dan Pemda Sulut mengetahui soal ini.
Abdi mengusulkan, satu solusi untuk meminimalisir kemacetan, dan menghindari kelangkaan BBM. Yakni, dengan menghentikan pemasukan kendaraan baru di Sulut, karena sudah ”overloaded” dibandingkan dengan panjang jalan yang ada. Diakuinya, pemasukan PAD melalui mobil baru ini di Sulut cukup tinggi tepatnya diatas 60 persen PAD yang diperoleh daerah ini.
”Sekali lagi resikonya PAD Sulut akan turun, tapi kemacetan juga akan termimalisir, dan kelangkaan BBM akan teratasi, jadi bukan Pemprov Sulut ataupun Pemkot Manado mengatur arus mobilitas kendaraan dan mengatur pola distribusi BBM Premium (bensin), dan mengusulkan penambahan kuota ke PT Pertamina, ”ujarnya.
Sebab menurut Abdi, kalau pemerintah meminta tambahan kuota, itu berarti anggaran APBN untuk menambah subsidi BBM akan bertambah, dan daerah lainnya juga akan ikut meminta hal yang sama. Artinya permintaan Pemprov dan Pemkot Manado itu, secara logika tidak mungkin diluluskan pemerintah pusat. ”Saya kira hal ini perlu kita kaji bersama, ”ujarnya menutup pembicaraan.(del)

Kalu bagitu…. tunggu jo “flying carpet” one thousand one nights.
mura,,,, nyanda macet/polusi… nyanda perlu minya.
Mar dimana torang dapa beli tu karpet terbang bagitu???
Bole kase tau akang pa kita sapa tu tau???
kalu perlu bikin jalan layang dan mengapa di Jawa dan Sumatra tidak pernah kekurangan Stok BBM ,siapa lebih banyak kendaraan .ini diskriminasi
Mo batasi oto baru maso di suatu kota itu mustahil…kecuali pabrik2 oto diseluruh dunia dimusnahkan…alias terjadi perang, jadi produksi oto tabrenti.
Dinegara2 tertentu bukan stop oto baru maso, tetapi oto2 yang so “kadarluarsa” itu yang dimusnahkan…karena selain beking macet juga polusi.
“dimusnahkan” juga itu ada berbagai cara, ada negara yang oto tua depe pajak dorang kaseh nae…supaya mau tak mau masyarakat pi jual jadi besi tua tu oto, trus bli oto baru, cuman solusi ini kurang cocok di Manado, karena kalo so jual tu oto tua, so nda mampu mo bli oto baru..hahaha
Jadi memang serba salah, ada juga solusi dengan pengadaan transport publik, mar baru2 ini trans kawanua gagal total karena nda ada kajian sebelum diluncurkan.
ini tugas Bappeda Kota untuk melakukan kajian dan pada akhirnya memunculkan transport publik yang sesuai di Kota Manado dan menghindari bentrok dengan Sopir Mikro.
Semua selalu ada solusi tinggal kemauan dan kerja keras dari pemerintah yang harus ditingkatkan
salam
Kapan tu fifty2 mo terapkan dang??? kage cuma leoh leh ini.
@andrei: setuju.
memerangi kemacetan itu tujuan antara dan meningkatkan produktivitas itu yg musti jadi tujuan utama. Cuma bagimana mo capai itu tujuan utama kalu tujuan antara ndak terealisasi. solusi dr pak buchari itu bagus tapi kl menurut kita lebe bagus lagi kalo di barengi dengan pengadaan transportasi publik yg memadai.Deng yg paling utama itu org manado musti kase ilang itu gengsi/tinggi hati cuma mo kase tunjung kalu punya oto. Mungkin susah stow mo tercapai soalnya enter pejabat deng pemuka(org2 basar) nyanda ada yg jadi contoh atw mo suka jadi contoh (Jadi inga dulu waktu Imba maso kantor nae mikro). memang perlu kajian juga sama deng fabian bilang.
cuma kase pendapat. hehehe……
Jaman sekarang robot yang engga pernah minta naik gaji bikin auto.
Jadi mass production berjalan cepat dan auto bertebaran di planet ini.
Di mana2 macet London, New York, Beijing, Jakarta, Manado dll.
Buang waktu/bbm, mesin makin rusak, stress/frustasi, polusi, dll.
Traffic engineers/managers makin pusing!!! Tambah jalan/infrastruktur
yang sangat mahal seperti di UK tetapi masih macet. Kurangi auto dan
“Pay perdistance travelled” seperti di Holland bnyak yang protes.
” The rules of fluid dynamic to traffic flow ” mengatakan bikin pipa lebih be
sar atau arus dipercepat. yang kurang lebih disimpulkan bikin jalan baru
tentu sangat mahal dan makan waktu jadi sebaikknya arus di percepat/lan
car seperti dikatakan Fabian JM. Jangan berhenti sembarangan/kesadaran
bersama toh makin macet semua makin rugi.
Yang saya agak heran, saya lihat dibanyak negara yang mulai/sedang ber
kembang banyak tractor/mesin pertanian keluyuran di mana mana mengolah
tanah/kebun sehingga hasil kebunnya banyak. Kenapa di Sulut banyak mo
bil baru dan mahal. Angkutan kota seperti berlebihan/kosong penumpang te
tapi masih banyak lahan kosong dan mengolah tanah masih seadanya????
Padahal kalau pemborosan seperti diatas digunakan untuk teknik/mekanisasi
pertanian dan industri kecil untuk byproduct processing pertanian akan lebih
banyak/berlipat hasilnya.
Sorry nech ini hanya sekedar pandangan !!!
Gbu all.
Sebaiknya pemerintah berhenti melakukan trial and eror, karena tidak akan menyelesaikan masalah kemacetan dan kecelakaan lalu lintas di Sulut, menurut saya ada 5 langkah yg harus dilakukan inipun hanya akan menurunkan angka kemacetan dan kecelakaan lalu lintas mendekati titik nyaman bagi pengguna jalan dan 5 langkah ini sangat diperlukan komitmen dan kerjasama yang kuat antara pemerintah dan masyarakat antara lain merubah Perilaku Masyarakat untuk Disiplin hal yang tersulit dalam menyelesaikan masalah ini, 5 langkah/jurus tersebut adalah : 1. Melakukan Kajian Ilmiah Kapasitas Jalan Menyangkut kemampuan jalan dan jumlah kendaraan, 2. Funsikan Jalan Secara Penuh: 3. Disiplin berlalu lintas: 4. Infrastruktur jalan; 5. Law Enforcement/Perkuatan Hukum
Detail penjelasannya bisa di lihat di SulutIptek TV dan Koran Online SulutIptek.
http://www.ustream.tv/recorded/18944197
http://sulutiptek.com/manadomacet-php.php
Semoga bisa menambah referensi kita
Cuma ada taputar2 Ang itu penjelasan……
I agree with Buchari. Itu salah satu solusi-nya…..
Andrei, jelaskan kamari dang apa hubungan antara produktivitas dengan naiknya jumlah kendaraan bermotor? hehehehhee….
tujuan utamanya haruslah mobilitas masyarakat yang efisien. kalo macet, produktivitas jadi rendah karena mobilitas tidak efisien. akan tetapi, kalau tidak ada sarana mobilitas, produktivitas akan lebih parah lagi. kalau produktivitas turun, masyarakat kita akan kalah bersaing dengan masyarakat di daerah lain yang produktivitas tinggi, yang pada akhirnya akan membuat masyarakat menjadi tidak sejahtera. Tujuan pemerintah adalah membuat produktivitas masyarakat naik. tujuan pemerintah bukan memerangi kemacetan. memerangi kemacetan adalah tujuan antara. tujuan utama adalah mengejar produktivitas.
Pak Abdi, kalau beri pendapat dikaji dulu… pakai otak & yang realistis…