
MANADO – Menanggapi pernyataan Taufik Tumbelaka di beritamanado.com, dalam berita yang berjudul Rektor Unsrat Anti kritik. Annes Supit SS, alumni Unsrat, mengatakan, skorsing dapat dilakukan pihak rektorat kalau dinilai mahasiswa telah melakukan tindakan di luar batas kewajaran.
”Soal kebebasan berpendapat, itu sah-sah saja. Namun kebebasan berpendapat harus bertanggungjawab, ”ujar Annes, pagi tadi. Baginya, rektor Unsrat bukan anti kritik, tetapi kritikan harus proposional, dan pada proporsi seperti apa harus jelas.
”Saya pikir tidak ada pembungkaman demokrasi di alam demokrasi seperti sekarang ini, apalagi di kampus. Yang dikuatirkan jangan-jangan ada pihak lain yang menggunakan mahasiswa. Kalau ini yang terjadi, khan kasihan mahasiswa proses belajarnya terganggung. Nanti yang rugi mahasiswa itu sendiri, ”ujarnya.
Selain itu menurut Annes, skorsing dapat dilakukan jika mahasiswa yang bersangkutan ada bukti atau temuan, misalnya, yang bersangkutan telah melakukan tindakan, dan perbuatan diluar kewajaran kampus. (bom)

total, ngana tau darimana dia ada ba kritik, nda ba fitnah? cek dulu depe kebenaran. kalo nintau apa-apa nda usah ba tambah. lebe dapa lia ngana p bog*. skorsing pa dia bos.
kritik itu boleh asal bukang kritik yg ba FITNAH (qta tau dp org). ngn le satu rupa tuh tau-tau jo. nintau apa-apa mo tmbah-tmbah. kapa ngn p tmn b fitnah kng dp skorsing???
satu kali jadi mahasiswa abadi jo sana..
Aneh leh ini istiilah Anes Supit “kritikan proposional dan kritik bertanggungjawab” ancor….ancor……… yg namanya kritik ya krtik…tergantung saja orang yang dikritik mau terima atau tidak….dan menempatkan kritik itu seperti apa….sepanjang orAng itu mengkiritk secara terbuka dan juga menyebut identitasnya itu namanya bertanggungjawab……Dan orang yang biasa menerima kritik tidak perlu bertindak berlebihan tapi menjawab kritikan dengan karya yg lebih baik……