Berita Utama

Ketua Komisi V DPR-RI: Hampir Mustahil Bangun Bandara Tatapaan

Ketua Komisi V DPR-RI: Hampir Mustahil Bangun Bandara Tatapaan
Ketua Komisi V DPR-RI, Yasti Soepredjo-Mokoagow (Foto BM)

MANADO – Rencana Pemprov untuk membangun bandar udara baru di Kecamatan Tatapaan, Kabupaten Minahasa Selatan, hampir pasti mustahil terwujud. Syarat jarak antar bandara minimal 6 jam perjalanan darat dan anggaran 4 sampai 5 triliun rupiah untuk pembangunan bandara sulit terealisasi, apalagi Bandara Samratulagi hingga kini belum Break Event Point (BEP).

Terungkap dari penjelasan Ketua Komisi V DPR-RI, Yasti Supredjo-Mokoagow kepada Berita Manado usai pelantikan pengurus KONI Sulut, di Hotel Gran Puri, Selasa (25/01) sore.

Menurut Bendahara Umum Partai Amanat Nasional ini, pembangunan bandara baru di Kecamatan Tatapaan-Minsel hanya bisa terwujud apabila ada investor yang mau membeli Bandara Samratulangi, kemudian membangun bandara lain dengan sistem ruislag.

“Anggaran pembangunan bandara 4 sampai 5 triliun rupiah dan itu bukan dari APBN. Konkritnya jika ada investor yang mau ruislag, bisa dibangun disana,” ujar Yasti.

Disinggung wartawan, pernyataan pihak Pemprov segera membangun bandara di Kecamatan Tatapaan, Yasti menampiknya, “yang lalu Pak Gubernur, baru memasukkan permohonan studi, dana studi nanti tahun 2012, nah, sambil studi kita bisa cari investor,” paparnya.

Sejauh ini menurut Yasti, Pemprov baru menawarkan pihak maskapai penerbangan Lion Air untuk membeli Bandara Samratulangi.  (JRY)

11 tanggapan untuk “Ketua Komisi V DPR-RI: Hampir Mustahil Bangun Bandara Tatapaan”

  1. Kalau bandara lei talalu jauh dr pusat kota so ndak efisien & sgt tdk efektif. Yg ada sekarang ditata dulu dan diperluas ndak usah pikir2 beking proyek baru. SDMnya hrs diperhatikan spy bisa bekerja dgn baik dan mampu memberikan pelayanan yg baik.

  2. Saya sependapat dengan bapak Daniel Wurangian, saya orang Manado tapi tinggal di USA, bulan November lalu saja dan suami visit ke kampung halaman yang tercinta, saya melihat banyak turis2 yang datang ke Manado, dan sudah pasti melalui bandara Sam Ratulangi, tapi betapa terkejutnya saya sampai di Bandara Sam Ratulangi Manado yang tercinta, Managemennya/pengelolah Bandara tidak memperhatikan yang kecil2 seperti TOILET yang tidak terurus, yang tidak memberi kesan sebagai Bandara Internasional, sangat kusam, kotor dan menjijikkan, saya sangat terkejut luar biasa, dan berkata dalam diri sendiri CUMA BAGINI KOTE ITU KEBERADAAN TOILET BANDARA INTERNASIONAL MANADO DAN TIDAK SESUAI DENGAN KEBERADAAN ORANG2 MANADO YANG LUAR BIASA TERKENALNYA BAIK DI LUAR NEGERI MAUPUNDALAM NEGERI….SARAN KAMI ORANG MANADO YANG TINGGAL DILUAR, NOMOR SATU ITU TOILET BEKING LEBIH BAGUS, INDAH, BERSIH, SEHINGGA BANYAK TURIS AKANG DATANG BERULANG-ULANG DI KOTA MANADOKU YANG TERCINTA, BUKAN CUMA SATU KALI DATANG DAN NDAK MAU LAGI UNTUK KEDUA KALINYA KARENA KEBERADAAN TOILET YANG TIDAK LAYAK BERADA DIBAWAH SEBUTAN BANDARA INTERNASIOANAL. terima kasih Bravo buat masyarakat Manado Tuhan memberkati.

  3. Sebenarnya untuk membangun bandara baru itu tidak salah, cuma saya rasa belum waktunya sekarang. Diagendakan saja untuk 5 tahun depan sambil melakukan kelayakan studi di lokasi2 yang masuk akal (tdk jauh dari Manado sebagai pusat ibukota). Yang lebih diprioritaskan adalah optimalisasi sumber daya dan potensi yang sudah ada saja. Kenyamanan dan keamanan bandara yang sekarang saja masih amburadul (banyak tamu dari luar yang komplain soal ini) padahal bandara adalah pintu gerbang masuk ke Sulut .
    Betul kita harus punya impian besar tapi kita harus mulai dari kecil dulu dan mulai dari apa yang ada. Perbaiki dulu manajemen pengelolaan dan SDM bandara supaya torang lei bangga saat kedatangan tamu dari domestik ataupun internasional.

  4. Kelihatan org Sulut so jadi terkontaminasi dengan pandangan orang barat, lebe suka lihat pembangunan dari sudut pandang fisik…

  5. @cakra:
    Ngna p maksud, di negara maju mana yg msh ada kemacetan?
    Qta so lia dg mata kepala sndiri di negara2 maju (Eropa, AS, Aust, Jepang, Singpura, bhkan Kuala Lumpur), nda ada tuh kemacetan rupa di Mndo!
    Justru ‘kemacetan’ mrpkn indikasi yg valid bhwa pmerintah setempat ‘tidak mampu’ (tidak siap) menangani ‘kemajuan’ daerah yg dipimpinnya!
    Tmpaknya ngana dg ‘pmrintah daerah’ di Sulut musti pi tambah ‘studi banding’ lagi k negara2 maju! Jgn sok ‘maju’, pdhal ba-pikir ‘mundur’..!:p

  6. kemacetat adalah suatu tanda di mana kota manado bertumbuh…menjadi kota yg berproduktif. jadi klo mo ksi ilang tu namanya kata “MACET” di area atw lintas kota yg berproduktif itu mustahil. contoh saja negara2 luar yg maju tetap saja ada kemacetan di pusat kota. yg harus di pikirkan adalah memberikan jalan alternatif & ruang bagi pejalan kaki dan bersepeda dan tanpa polusi. itu ide yg harus ada di dalm kota yg mau maju dan berkembang.

  7. ATASI DULU KWA ITU KEMACETAN DI MANADO…TERUS ATOR DULU ITU KOTA MANADO SUPAYA NYANDA SEMERAWUT DENGAN ITU TUKANG BAJUAL-BAJUAL DI PINGGIR JALAN.

  8. Itu sudah…mar tulaeng berusaha mematahkan argumen ….dgn segala alasan teori dan pengalaman, tanpa berpikir bijaksana….

  9. Syalom Kawanua… Yg pasti sbg warga yg baik mendukung kemajuan Sulut dalam berbagai bidang dan khusus bandara kong mobeking yg baru mungkin mmg berat karna bandara Samrat kan msh layak skali pake, tapi torang inga salah satu sukses para orang2 besar dunia yaitu memiliki impian yg besar, dan mimpi itu didukung oleh kerja keras dan doa. Mmg butul Karakter Kualitas Moral harus lebih diutamakan. Mantap..Maju..Mengembang…SULUT tercinta. (Makase Pembela Rakyat, Tuhan Yesus memberkati)

  10. Aawwooo..!!
    So bilg kwa, apa?! Torg bukannya nimau ada pmbangunan di Sulut, ttpi co ba-pikir realistis kwa ngoni samua!
    Sedangkn mo atasi kemacetan di kota Mndo saja, torg p pmerintah so ‘nda mampu’, apalagi mo bangun bandara baru… hehehe.. ‘mimpi kalee yeee??!!’ ;D
    Lebe bae, beking bgus jo dulu pelayanan di bandara Samrat dan bangun itu ‘karakter’ dan ‘kualitas’ SDM di SULUT, itu yg skrg hrs jadi PRIORITAS!!

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara