Manado-Batu Buaya adalah satu dari sekian banyak situs pariwisata yang diusung pada saat perhelatan World Ocean Conference (WOC) sekaligus dalam rangka mendukung Manado Kota Pariwisata Dunia 2010 lalu.
Lewat investigasi beritamanado, beberapa warga asli (dari suku bantik) yang ditemui mengatakan bahwa batu buaya tersebut, “dulunya ditemukan oleh seorang petani yang menggarap ladang (kebun), mencoba menggali tanah untuk ditanami dan menemukan batu tersebut di sana, karena bentuknya mirip buaya maka beberapa masyarakat menyebutnya batu buaya”, ujar salah satu bapak yang enggan menyebutkan namanya.
Lain halnya seperti yang diungkapkan bapak Angky (50-an) salah satu pemilik warung mengatakan bahwa batu buaya tersebut memiliki unsur magis, karena kalau malam hari, beberapa warga pernah menyaksikan batu ini, mengeluarkan cahaya berwarna merah dan bentuknya menjadi sama persis seperti buaya.
Namun dari informasi yang di dapat pula bahwa Batu Buaya lebih dikenal dengan legenda perang antara dua suku di Minahasa pada jaman dulu. Yakni; Tonaas Tonsawang dengan Tonaas Bantik. Jadi batu buaya bukan saja lebih ditonjolkan dari unsur magisnya, namun ada beberapa nilai sejarah (historis) yang melekat di batu ini.
Kini, batu buaya terabaikan, pemasangan pamphlet pada tahun 2008 lalu hanya untuk mengejar atau menambah situs-situs pariwisata belaka, dan banyak masyarakat menilai bahwa mengangkat objek batu buaya ke dalam salah satu situs pariwisata di Kota Manado terkesan hanya setengah hati.
“Dulu waktu pertama datang di Kelurahan Malalayang Satu, tidak ada objek ini, nanti sekarang karena mungkin menggenjot pariwisata dunia, objek ini ditambahkan. Kalau cuma batu saja yang ditawarkan tanpa ada cerita dan historinya pasti kurang menarik, jadi terkesan setengah-setengah”, ungkap Pak Sumerah salah satu Dosen di Universitas Negeri Manado jurusan seni rupa ini (tinggal kurang lebih 100 m dari objek wisata batu buaya).
Pengelolaan objek-objek wisata sering terbentur dengan permasalahan keterbatasan dana, namun tidak semua hal tersebut, menjadi penghalang untuk dunia pariwisata bergerak maju. Ketika bunga yang ditambahkan nilai histori-nya seperti cara menanamnya, merawatnya, asal bunga tersebut dan lainnya akan menambah daya tarik yang mampu mendongkrak harga bunga tersebut.
Demikian juga dengan batu buaya sebagai salah satu objek yang terlantarkan jika dipadukan dengan nilai kebudayaan akan menambah warna pariwisata Manado menuju kota model ekowisata di mana pariwisata laut yang lebih dahulu populer dapat didukung pariwisata darat yang mumpuni pula seperti halnya Jogya dan Bali. (cha)
