
Langowan, BeritaManado.com — Warga Langowan Kabupaten Minahasa, Kamis (26/12/2019) siang nyaris menyaksikan Gerhana Matahari Cincin.
Permulaan Gerhana Matahari Cincin yang mulai terlihat sekitar pukul 12.40 WITA, dimana saat itu kondisi langit yang memang berawan mulai tampak gelap layaknya akan segera turun hujan.

Seiring waktu berjalan, proses terjadinya gerhana tak jarang ditutupi awan tebal berwarna hitam pekat dan hanya sedikit kesempatan untuk mengabadikan saat matahari menampakkan wujudnya dengan kamera DLSR yang lensanya ditutupi empat lapis klise rontgen.
Sayangnya, beberapa menit jelang puncak Gerhana Matahari Cincin, awan tebal kembali menutupi wujud fisik matahari dibalik bulan yang sedang berproses untuk membentuk satu garis pandang dengan bumi.

Sementara itu, tidak banyak warga mengetahui atapun menyaksikan proses terjadinya gerhana tersebut, dikarenakan cuaca yang tidak bersahabat dan menandakan bakal turun hujan.
Jika dilihat dari proses terjadinya gerhana, fenomena alam tersebut hanya menyisahkan beberapa menit saja sebelum secara total bayangan bulan tepat berada satu garis pandang antara bumi dan matahari.

Namun demikian, masih ada warga yang sempat mengamatinya walau hanya sebentar saja, dikarenakan sempat turun hujan gerimis dan membuatkan langsung bergegas pulang.
Menurut salah satu warga Desa Wolaang Frelly Tulangow, bahwa fenomena tersebut tidak ada hubungannya dengan perayaan Natal yang dirayakan umat Kristen di seluruh dunia, melainkan hanya sebuah kebetulan saja.

“Menurut saya, sebagai orang beriman kepada Tuhan, bahwa kejadian tersebut merupakan proses alam yang terjadi pada kurun waktu tertentu dan itu semua bisa disaksikan oleh warga dunia. Yang terpenting disini yaitu, sebagai manusia ciptaan Tuhan bisa mengambil pelajaran penting bahwa apapun yang terjadi di langit maupun bumi, itu semua atas kehendak Tuhan semata,” ungkapnya.
Adapun momen terakhir proses terjadinya Gerhana Matahari Cincin tersebut yang sempat diabadikan dengan kamera diambil pada pukul 14.25 WITA dan setelah itu awan tebal kembali menutupi bulan dan matahari.
(Frangki Wullur)
