
Universitas Paramadina berkolaborasi dengan Komisi X DPR RI menggelar seminar pendidikan berskala nasional untuk membahas transformasi dunia pendidikan di Era Kecerdasan Buatan (AI).
Forum yang mempertemukan akademisi, pembuat kebijakan, praktisi pendidikan, hingga peserta didik ini menjadi ruang diskusi mengenai peluang sekaligus tantangan pemanfaatan AI di sektor pendidikan.
Seminar bertajuk “Transformasi Dunia Pendidikan di Era AI: Peluang, Tantangan dan Inovasi Masa Depan” tersebut berlangsung di Auditorium Firmanzah, Kampus Cipayung, Jakarta Timur.
Sebanyak 80 peserta yang terdiri atas guru, dosen, tenaga pendidik, mahasiswa, dan siswa SMA mengikuti kegiatan tersebut.
Perkembangan Artificial Intelligence dinilai telah mengubah lanskap ekonomi dan tatanan global.
Karena itu, Universitas Paramadina memandang perubahan tersebut sebagai kesempatan untuk memperkuat kemampuan teknologi mahasiswa tanpa mengabaikan nilai integritas yang sejalan dengan pilar kampus, yakni Keislaman, Keindonesiaan, dan Kemodernan.
Komisi X DPR RI Soroti Pemerataan AI di Pendidikan
Wakil Ketua Komisi X DPR RI Fraksi PKS, Dr. Hj. Kurniasih Mufidayati, M.Si., yang hadir sebagai keynote speaker, menekankan pentingnya peran negara dalam memastikan perkembangan AI tidak memunculkan ketimpangan baru di sektor pendidikan.
Ia menegaskan, “Negara harus memastikan bahwa penetrasi teknologi AI di sektor pendidikan tidak menciptakan jurang pemisah baru di Indonesia. Fungsi pengawasan dan penganggaran DPR RI Komisi X akan terus kami optimalkan demi menjamin pemerataan fasilitas digital dan peningkatan kompetensi guru dari Sabang sampai Merauke, sehingga akselerasi inovasi masa depan ini dapat dirasakan tepat sasaran oleh seluruh anak bangsa.”
Selain dukungan regulasi, pembaruan kurikulum di perguruan tinggi juga dinilai menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan tersebut.
Wakil Rektor Universitas Paramadina Bidang Akademik, Dr. Harry T.Y Achsan, dalam sambutannya mengingatkan pentingnya perguruan tinggi menyesuaikan metode pembelajaran agar lulusan mampu mengikuti perkembangan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan.
Universitas Paramadina Dorong Kurikulum Adaptif di Era Kecerdasan Buatan
Dosen Teknik Informatika Universitas Paramadina, M. Darwis, M.Kom., menjelaskan bahwa AI merupakan teknologi dengan kemampuan mengolah data dalam skala besar.
Namun, menurutnya, penggunaan teknologi tersebut tetap harus berada dalam koridor etika yang ditentukan manusia.
Ia mengatakan, “Artificial intelligence adalah alat yang luar biasa kuat, namun ia tidak memiliki nurani. Di ruang-ruang kelas digital masa depan, kemampuan critical thinking dan pemecahan masalah secara etis jauh lebih berharga daripada sekadar menghafal timbunan informasi. Kita harus melatih mahasiswa untuk menguasai AI secara teknis, sekaligus memiliki pola pikir adaptif yang berakar pada nilai humanitas.”
Darwis juga menilai pendekatan pembelajaran perlu berubah secara menyeluruh.
Menurutnya, pendidikan seharusnya lebih menitikberatkan pada kemampuan berpikir kritis dan penyelesaian persoalan nyata, bukan sekadar menghafal informasi yang kini mudah diakses melalui AI.
Pandangan serupa disampaikan Wakil Kepala Center for Sharia Economic Development (CSED) INDEF, Dr. Handi Rizsa, M.Ec.
Ia mengingatkan bahwa otomatisasi berbasis AI berpotensi mengurangi sejumlah pekerjaan konvensional sehingga perguruan tinggi perlu menyesuaikan kurikulumnya dengan kebutuhan industri masa depan.
Ia menyampaikan, “Pergeseran ekonomi dunia berbasis AI menuntut transformasi total pada kurikulum perguruan tinggi. Jika kita tidak menyelaraskan kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri masa depan yang dinamis, maka risiko pengangguran intelektual akan meningkat. Pendidikan harus diarahkan pada fleksibilitas keahlian dan penguatan integritas berbasis nilai kemodernan serta kebangsaan.”
