Hanya 3 Mobil Operasi di Kolo-kolo

Biaro-Sebagai kabupaten hasil pemekaran, tidak lantas membuat laju infrastruktur penunjang kegiatan publik di Kabupaten Sitaro bergegas cepat. Masih ada masyarakat yang belum optimal menikmati sentuhan pembangunan, semisal di Kecamatan Biaro.
Bumi Kolo-kolo, sebutan untuk Biaro dalam terminologi lokal, relatif tertinggal dengan daerah sekitarnya di Siau dan Tagulandang. Lihat saja kala Drs Winsulangi Salindeho menjejakkan kakinya di sana baru-baru, bakal calon bupati yang diusung Partai Golkar dan beberapa Parpol lain itu sampai trenyuh melihat kondisi jalan-jalan kampung Biaro yang masih “belum sepenuhnya merdeka”.
“Padahal ada dana bantuan PNPM yang setidaknya bisa membuka ruang pembangunan di kawasan ini dan harus diingat itu dana pemerintah, bukan milik pribadi,” seru Bu Winsu, sapaan akrabnya, saat melantik Tim Pemenangan Salera Kecamatan Biaro, Jumat (19/4) di Kampung Lamanggo. 200-an pendukung hadir saat itu.
Wempriet Jacobs, tokoh masyarakat Biaro yang berkarier di Manado, juga miris dengan nasib tanah kelahirannya. Sudah 6 tahun Sitaro dimekarkan, namun pembangunan di Biaro tak kunjung maksimal. Padahal daratan Biaro adalah salah satu gugusan pulau utama yang membentuk Sitaro.
“Bayangkan saja sampai saat ini cuma 3 mobil pick up yang beroperasi di Kecamatan Biaro, ini karena kondisi infrastruktur jalan yang nyaris tidak tersentuh betonisasi atapun pengaspalan,” kata akademisi ini.
Bu Winsu yang nanti akan berpasangan dengan Drs Piet Hein Kuera mengingatkan masyarakat Biaro, seputar kenangannya tatkala memperjuangkan pemekaran Sitaro 2007 silam. Sebagai Bupati Sangihe dia menghadap Ketua Komisi II DPR RI, saat itu masih dijabat EE Mangindaan —Menteri Perhubungan saat ini. “Pak Mangindaan ingatkan saya kalau Pilkada langsung (di Sangihe, red) bakal kalah karena saya ini kan putra Siau,” tutur Winsulangi.
Tapi jawabnya, menjadikan Sitaro otonom bukan persoalan siapa yang memimpin, “Tapi perluasan pelayanan yang dioptimalkan, terutama pula perluasan pembangunan,” sebut Bu Winsu. (*/alf)

Saudara2 ku jngn terpengaruh deng kata kata manis merah atau kuning iko hati nurani skrng ini tarulah biaro tdk Di perhatikan kedepan blum tentu Di perhatikan amangku …..lebeh bae mancari jo jang dengar dong samua …sebab dong samua nanti ada kepentingaan baru datang ke biaro..he he he nda katu musti pilih salah satu ….yg satu so tua berpasangan dngn so tuale kemudian yg satu mudah mar china ado samajo tau to ngoni amang ? Jadi pikir bae 2 motentukan pilihan jika tidak 5 tahun menyesal ..jngn krna calon ini tutune atau jngan karna yg lain kasih doi kong pilihan jatuh kesitu tanah amang …….golput ….. mar jngn
@Petraung …
Ini tuh FAKTA hasil Pembangunan TONSU selama 5 tahun….hi…hi..
TONSU telah berhasil membangun jalan lingkar Biaro….,yang biasa sehari hari di lintasi oleh 3 Unit mobil pik up saja.
@saudara2ku di Biaro ayo kita menangkan BU Winsu..,karena TONSU sudah berkhianat dan tidak memenuhi janjinya untuk membangun SITARO dengan benar…
@PETARUNG !!! baru TONSU (BUPATI) yg ngoni bilang orang tagulandang itu yg dekat deng biaro,so nyanda jaga lia apalagi BU WINSU yg banyak berkiprah di luar SITARO. coba kwa ja ba pikir bae bae jang ASBUN (ASAL BUNYI) terus. sama deng ngana da bilang masyarakat SITARO org pintar-pintar semua cuma ngana yg bodok stou kang. Kacian de lu
statemen terakhir saya sependapat dgn winsu,bukan siapa yg memimpin.makanya isu org asli atau bukan sdh nda jaman lagi,org melihat kinerja dari seseorang,masyarakat sitaro org pintar2 tdk akan terpengaruh dgn isu ras.apalagi winsu pernah jadi bupati sangihe yg mencakup sitaro jadi rakyat sitaro boleh menilai apa yg winsu lakukan di banding dgn pak TONI.bisa di tanyakan kepada winsu kpn terakhir dia ke biaro seblm ini,mgkin ini pertama kali dia ke biaro(koreksi kalo sy salah)nanti ada kepentingan baru lia,tapi semuanya kembali ke masyarakat utk menilai….