Saat mengikuti program pelatihan di China beberapa waktu lalu, Aji melihat banyak UKM di China mampu memproduksi dan mengembangkan peralatan untuk industri energi terbarukan. Menurutnya, pendekatan China yang memadukan kebijakan, pembiayaan, dan riset akademis telah menciptakan ekosistem yang mendukung pengembangan energi bersih.
Setelah kembali ke Indonesia, Aji mengatakan dirinya semakin terdorong untuk memperkuat dukungan bagi UKM agar dapat menjadi bagian dari rantai nilai produsen besar di sektor energi bersih.
Irawati dari Kementerian Transmigrasi RI, yang mengikuti pelatihan tentang pembangunan perdesaan dan pengentasan kemiskinan di Beijing dan Provinsi Yunnan pada Mei lalu, mengatakan pengalamannya di China menunjukkan pentingnya kebijakan pembangunan yang disesuaikan dengan kondisi lokal.
Menurut Irawati, setiap kawasan transmigrasi di Indonesia memiliki sumber daya, tantangan, dan peluang ekonomi yang berbeda. Karena itu, program pembangunan perlu didasarkan pada kekuatan lokal dan didukung oleh pembangunan infrastruktur, pemberdayaan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan pengembangan SDM secara terpadu.
Ade Reyhan Salman dari Pemerintah Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan, mengatakan pelatihan mengenai pembangunan dan pengelolaan kawasan industri yang dia ikuti di Beijing pada 2025 memberinya wawasan mengenai kawasan industri hijau, efisiensi energi, dan pengelolaan limbah industri.
Ade mengatakan pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan dapat berjalan beriringan jika didukung oleh perencanaan jangka panjang, tata kelola yang efektif, dan komitmen terhadap inovasi.
Suasana malam semakin semarak ketika Rio Gunawan dari Kemensesneg bersama lima rekannya naik ke atas panggung. Keenamnya merupakan peserta China-ASEAN Young Leaders Programme — sebuah program yang, menurut Rio, semula hanya menargetkan tiga peserta dari Indonesia, tetapi akhirnya diikuti sepuluh orang dari berbagai kementerian dalam satu angkatan. Dua pekan bersama di China telah mengubah mereka menjadi “keluarga sesungguhnya,” ungkap Rio.
Puncak penampilan mereka adalah sebuah kejutan: keenamnya menyampaikan ucapan dalam bahasa Mandarin secara bergiliran — dari salam pembuka “Dàji? h?o” hingga ucapan peringatan “Zhù Yìndùníx?yà hé Zh?ngguó hézuò q?shíliù zh?unián kuàilè!” (Selamat merayakan 76 tahun kerja sama Indonesia-China!) — yang memancing tawa dan tepuk tangan meriah dari seluruh ruangan. Mereka mengungkapkan bahwa sejak kembali ke Indonesia, keenamnya mengikuti kursus bahasa Mandarin bersama.
“Persahabatan kami lahir dari China, dan hingga kini kami masih terhubung dengan China lewat hati,” kata Esty Nadya Rafyanti, salah satu di antara mereka. Duta Besar Wang pun merespons kemampuan bahasa Mandarin para alumni itu dengan pujian singkat: “Bagus” — disambut sorak kegembiraan hadirin.
Sejumlah alumni muda dari berbagai kementerian dan lembaga Indonesia juga menyampaikan bahwa program pelatihan di China memperluas pemahaman mereka mengenai pemanfaatan teknologi, termasuk Internet of Things dan kecerdasan buatan (AI), dalam pembangunan. Mereka mengatakan pengalaman belajar di China juga membangun jejaring lintas instansi dan memperkuat hubungan personal di antara para peserta.
Acara tersebut ditutup dengan sesi jejaring dan pertunjukan bernuansa budaya, yang mempertemukan para alumni, pejabat, dan mitra kerja sama dalam suasana persahabatan. Para peserta menyatakan harapan agar kerja sama teknis Indonesia-China terus berkembang dan memberi kontribusi lebih besar bagi pembangunan Indonesia serta hubungan kedua negara.
(Konten dipublikasikan dengan izin dan kerja sama dengan Kantor Berita Xinhua)
