“Akibatnya, muncul kades yang jauh dari kapasitas yang diharapkan. Banyak desa mandek padahal potensi alamnya luar biasa. Mereka minim inovasi dan sebagian justru terjerat masalah hukum karena penyalahgunaan anggaran,” lanjutnya.
Sindrom Pragmatis: “Politik Uang dan Ikatan Keluarga”
Menutup materinya, Liando mengkritik pragmatisme pemilih yang masih kental dengan pola pikir emosional ketimbang rasional.
Ketiadaan proses kaderisasi formal membuat banyak calon menghalalkan segala cara, termasuk jual beli suara.
Parahnya lagi, pemilih sering kali mengabaikan rekam jejak hanya demi kedekatan keluarga.
Ia mengutip pepatah lokal untuk menggambarkan fenomena ini: “Mande ketare raica mekeilek sapa-sapa, taan sia tuariku” (Meskipun tidak punya pengalaman, tapi dia saudara saya).
“Pola pikir pragmatis inilah yang harus diubah jika ingin desa maju,” pungkasnya.
