Berita Utama

Tajuk Rencana: Sawer Duit dan Empati Sosial

Tajuk Rencana: Sawer Duit dan Empati Sosial
Ilustrasi sawer duit. Foto: Ist

BeritaManado.com — Beberapa pekan terakhir, jagat maya di Sulawesi Utara diwarnai dengan video-video pesta sawer duit.

Dari desa di Kabupaten Minahasa Tenggara hingga di Minahasa Utara dengan kemeriahan tampak di mana-mana.

Musik berdentum, DJ ibu kota tampil memeriahkan suasana, sementara lembaran uang beterbangan di udara, disambut sorak-sorai para penonton dan konten kreator yang mengabadikannya untuk dunia maya.

Tidak sedikit yang menonton dengan kagum.

“Hebat, pengusaha daerah kita dermawan,” begitu beberapa komentar yang muncul.

Namun di balik euforia itu, tak sedikit pula yang merasa janggal.

Bukan iri, tetapi karena pemandangan itu muncul di tengah realitas sosial yang masih sarat kesenjangan.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin di Sulawesi Utara per Maret 2025 mencapai 173,84 ribu jiwa, meningkat dari 173,30 ribu jiwa pada September 2024.

Artinya, di balik pesta uang yang viral di media sosial, masih banyak warga harus menimbang harga beras, menunggu bantuan pemerintah, atau menahan kebutuhan demi bertahan hidup.

Fenomena sawer duit memang tidak melanggar hukum.

Para pengusaha itu menghamburkan uang mereka sendiri, hasil jerih payah yang sah.

Namun, persoalan bukan terletak pada siapa yang memberi dan siapa menerima, melainkan pada pesan sosial yang tersirat ketika kemewahan dipertontonkan di ruang publik yang masih diwarnai ketimpangan ekonomi.

Budaya kita sejatinya kaya dengan nilai-nilai solidaritas.

Dalam setiap pesta rakyat, biasanya ada semangat mapalus, saling membantu.

Namun ketika pesta berubah menjadi ajang adu gengsi atau unjuk kekayaan, esensinya bergeser.

Dari kebersamaan menjadi pameran.

Di titik itulah, empati perlahan memudar, dan kesenjangan terasa nyata.

Masyarakat tentu tidak menolak hiburan.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara