Semua orang butuh kegembiraan setelah bergelut dengan tekanan ekonomi.
Namun, kemeriahan semestinya tidak membuat kita lupa pada mereka yang masih berjuang di pinggiran kehidupan.
Kegembiraan akan terasa lebih bermakna jika diiringi dengan semangat berbagi dan kepedulian sosial.
Sulawesi Utara dikenal sebagai tanah yang ramah dan berbudaya.
Di sinilah semestinya muncul contoh yang menyejukkan bagaimana orang yang diberkati lebih mampu, justru menjadi sumber inspirasi dan penopang bagi yang membutuhkan.
Kita tentu berharap semangat “berbagi” yang ditunjukkan melalui sawer duit dapat diarahkan pada bentuk yang lebih berdaya guna.
Misalnya, sawer beasiswa bagi anak-anak berprestasi, sawer modal usaha bagi pelaku UMKM, atau sawer harapan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan.
Dengan begitu, setiap lembar uang yang keluar bukan hanya menjadi hiburan sesaat, tetapi juga benih kebaikan yang menumbuhkan masa depan.
Kita tidak sedang menyoal gaya hidup atau kebebasan seseorang, melainkan mengingatkan bahwa kemewahan tanpa empati adalah kesunyian yang tak berbunyi.
Kesenangan sejati justru lahir ketika kebahagiaan yang kita miliki turut menyentuh hidup orang lain.
Mari belajar menyeimbangkan antara euforia dan empati.
Sebab, sebuah daerah akan benar-benar maju bukan ketika uang berhamburan di udara, melainkan ketika kesejahteraan tersebar di hati dan kehidupan masyarakatnya.
(***)
