
Penulis: Tim Redaksi
Manado – Angka tidak pernah berdusta, meski sering disalahbaca.
Ketika Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Sulawesi Utara naik 0,64 poin — dari 75,68 pada 2024 menjadi 76,32 pada 2025 — pertanyaan yang relevan bukan hanya “seberapa tinggi?”, tetapi “apa yang menggerakkannya?”
Jawabannya ada di dua tempat yang tidak sering disebut bersamaan: ruang kelas dan tiang listrik.
Sekolah Dibangun, Beasiswa Dibagikan
Pembangunan SMA Taruna Nusantara di Noongan, Kecamatan Langowan, Minahasa, dan hadirnya Sekolah Rakyat di Manado serta Tampusu-Minahasa memperluas akses pendidikan berkualitas ke wilayah yang selama ini tidak memilikinya.
Ini bukan perluasan kuantitas semata — ini soal mutu dan kesempatan.
Pembukaan Fakultas Kedokteran dan Fakultas Pertanian di Universitas Negeri Manado (UNIMA) menjadi langkah investasi jangka panjang yang dampaknya baru terasa satu dekade ke depan: dokter yang lahir dari Sulut dan bertahan di Sulut, ahli pertanian yang memahami karakter tanah dan iklim lokal.
Tidak ketinggalan, beasiswa dan bantuan pendidikan diberikan kepada 1.612 siswa SMA, 454 siswa SMK, dan 6 siswa SLB.
Rehabilitasi toilet di 28 SMA, 18 SMK, dan 4 SLB — yang mungkin terdengar kecil — adalah intervensi langsung terhadap kenyamanan dan martabat belajar.
Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) 99,1 persen
Kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) mencapai 99,1 persen, dengan keaktifan 81,4 persen.
Di negara dengan sistem jaminan sosial yang masih dalam proses pematangan, angka mendekati universal seperti ini adalah pencapaian yang signifikan.
Penghargaan nasional Governments Award kategori Outstanding Province in Life Expectancy Value dan apresiasi Kompas TV untuk kepedulian kesehatan dan gizi anak menjadi validasi eksternal atas data internal tersebut.
Pembenahan Kolam Renang Ranowangko di Sario, Manado, dan revitalisasi Pacuan Kuda di Tompaso, Minahasa, bukan sekadar soal fasilitas olahraga — ini tentang ruang publik yang memberi masyarakat kesempatan untuk sehat, bergerak, dan berbudaya.
Tujuh Pulau yang Kini Benderang
Di antara seluruh capaian yang terdokumentasi, ada satu yang paling berbicara tentang keadilan: tersedianya listrik 24 jam di tujuh pulau di Kabupaten Minahasa Utara, Kepulauan Sitaro, dan Kepulauan Talaud.
Selama bertahun-tahun, masyarakat di pulau-pulau itu hidup dalam siklus cahaya yang ditentukan oleh genset yang bahan bakarnya mahal dan sering langka.
Kini mereka punya listrik sepanjang waktu.
Anak-anak bisa belajar malam hari.
Ibu-ibu bisa menyalakan kulkas.
