
MINUT-Warga di kecamatan Likupang Selatan sepertinya tidak mau hanya menjadi penonton pasif dalam pemilu legislatif 17 April mendatang.
Pengalaman selama 10 tahun berturut-turut tidak ada keterwakilan Liksel di DPRD Minut, rupanya menjadi salah satu penyebab terjadinya kesenjangan pembangunan di Liksel dengan kecamatan lain di Minut.
Kesenjangan yang dimaksud seperti, pembangunan di bidang kesehatan dan pendidikan.
“Banyak aspirasi masyarakat yang tidak ditindak-lanjuti oleh eksekutif, karena tidak ada yang menyuarakan dan mengawasi di DPRD. Sebagian besar aspirasi hanya sebatas opini semata,” beber tokoh pemuda Liksel Mariati Eugenia Kasenda, SH.
Dalam era demokrasi seperti saat ini, masyarakat Liksel membutuhkan penyamaan persepsi serta kebersamaan dalam bertindak untuk membawah Liksel menjadi kecamatan unggulan, produktif dan mandiri dalam berbagai aspek di kabupaten Minut.
“Tanpa semangat persatuan, maka, Liksel 20 tahun lalu tidak ada bedanya dengan Liksel 5 tahun mendatang,” kata jebolan Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, Surabaya ini.
Untuk itu, Kasenda menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi terhadap sejumlah tokoh Liksel yang ikut berpartisipasi dalam pemilu 17 April mendatang diantaranya hadirnya tokoh perempuan asal desa Paslaten Vonny Adel Rumimpunu.
“Saya salut dengan keseriusan VAR untuk membangun Likupang Selatan. Kita butuh tokoh yang serius dan mau bekerja dan mengabdi untuk Liksel. Semoga perjuangan VAR akan diberkati,” urai Kasenda yang 1 tahun terakhir ini sibuk merintis usaha pengembangan wisata alam di Minut ini.
Lanjut Kasenda, potensi pemilih di Liksel yang mencapai 4.000 lebih semestinya menjadi aset bagi warga di Liksel untuk memuluskan tokoh lokal ke DPRD Minut.
“Sayangnya, potensi ini justru dimanfaatkan oleh kompetitor lain yang semestinya tidak paham dengan budaya dan tatanan hidup masyarakat di Liksel,” jelas perempuan paruh baya ini di sela sela diskusi disalah satu restoran di bandara Sam Ratulangi kemarin.
(***/rds)
