TOMOHON – Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Gereja Masehi Injili di Minahasa (YPTK GMIM) adalah lembaga pengelolah Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT) yang sah. Demikian diungkapkan Badan YPTK GMIM Prof Bonie Sompie, dalam sambutannya di Rapat Senat Terbuka dalam rangka upacara wisuda bagi 110 wisudwan UKIT, Selasa 25 Oktober 2011.
Menurutnya, UKIT YPTK sebagai pengelolah UKIT sudah memiliki kepastian hukum. “Sesuai putusan Mahkamah Agung RI No 2668 K/PDT/2008 tanggal 19 Januari 2010, disusul terbitnya penolakan Mahkamah Agung atas PK yang diajukan, No Reg 134/PK/PDT/2011, tanggal 10 Mei 2010. Dengan demikian UKIT YPTK GMIM adalah pengelolah UKIT yang sah dan sudah memiliki kepastian hukum tetap,” terang Sompie.
Sementara itu, Rektor UKIT Pdt DR Richard AD Siwu MA PhD di hadapan para wisudwan meminta agar para wisudawan bisa menjadi ‘Surat UKIT’. “Banyak selamat buat para wisudawan. Harapan kami saudara-saudari menjadi ‘Surat UKIT’ yang daripada pengabdian, pelayanan, kompetensi dan perilaku kalian, masyarakat akan memberikan penilaian kepada almamater kita tercinta. Karena itu, jagalah prilaku kalian dengan tetap mempertahankan integritas pribadi,” ujarnya.
Hadir juga dalam acara tersebut, Kajati Sulut, Kapolres Tomohon yang diwakili Wakapolres Kompol Youddy Kalalo, sejumlah pejabat dilingkup Pemprov Sulut, Kopertis Wilayah IX Indonesia Timur, civitas akademika UKIT serta para undangan dan orang tua wisudawan. (iker)

??????????? paskah
Sompie anggota senat UNSRAT
Lotje Kawet anggota senat Unsrat mengundurklan diridari senat UNSRAT (khawatir plagiat)
Beda 100 derajad
BACA HARIAN KOMENTAR HARI INI -KAMIS 5 April 12 – HALAMAN UTAMA
MAHASISWA UKIT ASR WENAS HADANG EKSEKUSI PENGADILAN NEGERI TONDANO…. Memang jago melawan HUKUM, RAJIN DEMO dan MERUSAK
MAKLUM DI BACKUP PETINGGI GEREJA
Gereja harus adil…berpihak itu kuasa gelap
YPTK Beringas, WENAS FRUSTASI
Saya pikir prof Bonie Sompie dan Prof Loce Kawet tidak bersalah dan Rektor Unsrat tidak perlu menengahi kedua dosen Unsrat tsb sebagaimana ide Prof Lucky; bukan soal intervensi, tetapi masalah sebenarnya tidak terletak pada kedua dosen tersebut. Akar permasalahan ini sebenarnya terletak pada struktur organisasi GMIM. Struktur ini bukan ditetapkan oleh seseorang tetapi Sidang Sinode yang menetapkannya. Jadi jika ada ketidak harmonisan organisasi GMIM saat ini maka yang salah adalah seluruh warga GMIM. Jika warga GMIM tidak dapat menyelasaikan masalah ini berarti patut diduga “ada” unsur-unsur kepentingan pribadi atau kelompok didalam otak dari para utusan atau peserta sidang atau apapun namanya . Semua kemungkinan negatif patut diduga sebab banyak fakta saat ini menunjukkan telah terjadi perpecahan dikalangan pemimpin elit GMIM. GMIM sedang diperdaya oleh “I” (alias iblis) dan kita tidak menyadarinya. Iblis membuat orang suka berpikir dan bertindak serakah, arogan, takut kehilangan jabatan, materialistik. Akal kita dipakai iblis untuk menilai orang menurut ukuran material dan kedudukan (sekarang cenderung pada status pendidikan), dll yang bersifat keduniawian. Semua ukuran itu tidak ada salahnya karena semua status itu dipakai untuk kepentingan semua orang, tapi sekarang berubah menjadi kepentingan pribadi dan golongan.
Kedua Yayasan “GMIM” yang ada sebenarnya baik untuk mempertajam dan memperluas ruang lingkup pengabdian dan pelayanan GMIM pada masyarakat, tetapi mengapa saling “mematikan”? (masuk ranah hukum negara). Apakah mereka yang bersteru takut kehilangan kekuasaan, kehormatan atau untuk menutupi segala “aib” dalam persoalan internal dan elit penguasa GMIM diwaktu lalu maka kekuasaan harus dipertahankan. Benar dan salah itu bersifat relatif. Mengapa tidak ada rasa saling menolong, berkorban, mengampuni dan mengakui kesalahan (dosa) sebagaimana ajaran iman kita?
Benih-benih yang ditabur mulai dituai : mahasiswa YPTK tidak diizinkan beribadah di GMIM Popareng. Luarrrrrrr biasasasasasa. . . Inilah hasil pekerjaan IBLIS.
Willbe true Ini bahasa pendeta. Bahasa pdt. Tampi lain tuh… Ukit jangan hancur. Kalu bubar, prestasi pimpinan greja katuk no
Dunia Semakin Jahat, Tapi Tuhan tidak Tutup Mata dengan Apa yang terjadi… Bukan Kita yang menghakimi, tapi Tuhanlah yang berperkara. perkara di UKIT sampai sekarang tidak Tau Kepastiannya. Dari AOS yang jadi tersangka menggelapkan Uang UKIT YPTK, Mendirikan Yayasan Baru, untuk menutupinya, Tidak diberikannya Gaji para Dosen UKIT yang Sah menurut Hukum Tertinggi di Indonesia (MA) sampe Teror pemecatan terhadap dosen YPTK, Sinode GMIM tidak menerima Alumni YPTK yang ingin melayani di GMIM. Adanya Penekanan terhadap Ketua Wilayah sampai Pdt pelayanan GMIM untuk Mengikuti & Menghasut Jemaat agar percaya akan tipu Muslihat Petinggi GMIM. ASet GMIM yang di sewakan ke pihak swasta seperti ABI (tidak sesuai dengan Keputusan RBPSL), yang seharusnya adalah Gedung Bersejarah yg di BUat Oleh Warga GMIM. Apakah Sinode Sudah tidak Punya Uang lagi, padahal uang Persembahan dari Jemaat saja, Andaikan di GMIM ada 100 Gereja. 1 Gereja ada 1000 Orang , tiap orang memberikan persembahan selama 1mgu Rp.5000,-:
100 x 1000 x 5000= 500.000.000,- di kali 1 bulan ( 4 Mgu) = 2.000.000.000,-
Hasil ini diluar persembahan Bulanan tetap Keluarga, PErpuluhan, Sampul Syukur, Hasil pendapatan dari Aset2 GMIM, dan bantuan dari Luar Negeri, Persembahan Syukur HUT, Pernikaha, Kelahiran, Kematian, MUntep, dll.. (BAnyak SKALiiiii)
Sebagai Warga GMIM, Saya menyayangkan Orang yang terus Membela dan Menutupi Kesalahan Petinggi GMIM yang bersalah.
Namun, pada dasarnya Bukan Agama dan Sinode atau Aliran yang menyelamatkan tetapi Kepercayaan kita pada Tuhan Yesus.
Smoga kita Bisa menjadi Berkat, kita adalah Orang Berdosa tapi Tuhan Mengampuni Orang Yang bersalah padaNYa jika kita Mengaku Dosa KepadaNya.
Setuju Prof Sondakh. Prof Sompie yg Ganteng, Prof Kawet yag Cantik. Kasihan orang GMIM pinter, injak-injak sama Prof Roeroe, Pdt. Parengkouan, Prof Rondonuwu. So lebeh pande katuk, politik maso greja. Pdt Supit pe tangan dingin heheh. Rektor UNIMA dg UNSRAT so bukang GMIM. Karena GMIM rakus
Nda guna kuliah di yptk ujung2nya ijasah nimbole melamar untuk menjadi pendeta GMIM
Kalo mo bicara paling jago, sok suci… Rupa so dorang punya tu surga mar lia jo kwa dorang p perbuatan. Ternyata….. Yaahhhh…
waduh….saya sebagai orang GMIM dan Unsrat, prihatin juga. Sudah ada dua petinggi Unsrat yang masuk ke arena “UKIT PROBLEM”. Prof Sompie dan prof Loce Kawet. kedua duanya Professor di Unsrat. Prof Sompi Pegang UPPTK, yang satu lagi, prof Kawet, Yayasan Wenas….lalu keduanya mengklaim sah…Ayo Pak Rektor….damaikan kedua beliau ini…anda punya pengaruh dan kewenangan…dengan menugaskan kedua beliau ini, atas izin rektor, maka Unsrat bisa menjadi bagian dari keberhasilan perdamaian di UKIT tapi bisa juga sebaliknya merupakan bagian dari kegagalan perdamaian itu….Syalo. Prof Lucky Sondakh, Mantan Wakil Ketua BPS GMIM, Mantan Anggota Majelis Pertimbangan GMIM.
Lembaga pendidikan,kesehatan naungan GMIM semakin tertinggal. Sayang seribu sayang..
SAH ATAU TIDAK RS PANCARAN KASIH SOMO TUTUP
YTPK REKTOR SIWU. WENAS REKTOR ARINA DENG SUMARAUW… WENAS MEMANG TUKANG BAKALAE
Bakalae jo ngoni….UKIT ujungnya dapa TUTUP…Kasian deh loeeeee
Sah ato tidak sah yg jelas lulusan teologi yptk tidak bisa melamar vicaris di GMIM karena yg di terima cuma lulusan teologi yayasan WENAS . Kasihan juga yaa,
Cukup jo Supit yg Tuhan tolak. Pdt Tampi musti buka mata lebar2. Sadiki lei Tuhan beracara.. Akui jo Hukum
Ketua BPS GMIM jg ditolak Tuhan lagi sama deng Supit.. Akui jo Hukum
itu kata Sompie…. tapi kata Dikti lain tuh………
kalau dibuka website DIKTI….yang diakui cuma Wenas…gimana ya??????bersatu dong…alumni n mahasiswa korban dong…ayooooo…soempah pemoe
da….Satoeee UKIT!!!!!!
UKIT jangan hancur