Agama dan Pendidikan

Simbol Toleransi: Tokoh Lintas Agama Menyatu di Katedral dan Istiqlal

Simbol Toleransi: Tokoh Lintas Agama Menyatu di Katedral dan Istiqlal
Simbol Toleransi: Tokoh Lintas Agama Menyatu di Katedral dan Istiqlal

Jakarta, BeritaManado.com — Hari pertama pelaksanaan Silaturahmi Nasional (Silatnas) Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan Lembaga Keagamaan Tahun 2025 diwarnai dengan momentum bersejarah yang sarat makna persaudaraan dan toleransi, Selasa (5/7/2025).

Lebih dari 350 peserta dari berbagai provinsi di Indonesia memulai rangkaian kegiatan dengan kunjungan simbolik ke dua landmark keagamaan nasional: Gereja Katedral Jakarta dan Masjid Istiqlal.

Tur lintas iman ini dimulai dengan melewati Terowongan Silaturahim, jalur penghubung langsung antara dua rumah ibadah tersebut, sebagai simbol kuat dari semangat hidup berdampingan dalam perbedaan.

Para peserta terdiri atas pengurus FKUB provinsi, kepala kantor wilayah Kementerian Agama, tokoh agama lintas iman, hingga pejabat Kementerian Agama pusat.

Bagi banyak peserta, terutama dari luar Jakarta, kunjungan ini menjadi pengalaman pertama yang membekas.

Tidak sedikit yang menyebutnya sebagai momen spiritual dan reflektif yang mempertegas bahwa kerukunan umat beragama bukan hanya gagasan ideal, melainkan realitas yang bisa diwujudkan bersama.

Di Gereja Katedral, para peserta disambut hangat oleh Susyana Suwadie, Humas Keuskupan Agung Jakarta.

Dalam paparannya, ia menjelaskan sejarah berdirinya gereja megah yang telah berdiri sejak tahun 1891 dan diresmikan pada 1901.

Letaknya yang berhadapan langsung dengan Masjid Istiqlal menjadi penegas nyata bahwa harmoni antarumat beragama telah lama berakar di jantung ibu kota.

Rombongan kemudian bergerak menuju Masjid Istiqlal, di mana mereka diterima langsung oleh Menteri Agama RI, Prof Dr KH Nasaruddin Umar, MA., yang juga menjabat sebagai Imam Besar masjid tersebut.

Dalam sambutannya, Nasaruddin menekankan nilai universal agama yang berakar pada cinta kasih.

“Semakin seseorang memahami esensi ajaran agamanya, semakin luas pula ruang untuk menjalin persaudaraan. Namun jika pemahaman agama hanya sebatas permukaan, maka yang muncul hanyalah prasangka dan permusuhan,” tutur Menteri Agama.

Menanggapi maraknya insiden intoleransi di sejumlah daerah, seperti Sukabumi dan Padang, Nasaruddin menegaskan pentingnya pendidikan keagamaan yang menanamkan nilai-nilai kasih dan empati sejak dini.

Ia memperkenalkan inisiatif Kurikulum Cinta, sebuah program Kementerian Agama yang bertujuan menumbuhkan karakter welas asih, melenyapkan prasangka, dan memperkuat kohesi sosial.

“Kurikulum ini bukan sekadar mengajarkan toleransi, tetapi menanamkan kasih sayang sebagai fondasi kehidupan bersama dalam masyarakat yang majemuk,” tambahnya.

Kunjungan ini menjadi pembuka resmi rangkaian Silatnas FKUB 2025 yang akan berlangsung hingga 7 Agustus 2025 di Hotel Atria Gading Serpong.

Selain kegiatan lintas iman, forum ini akan membahas arah kebijakan kerukunan nasional melalui diskusi panel, sidang komisi, dan pleno lintas daerah.

Dari Sulawesi Utara, turut hadir mewakili Ketua FKUB Sulut, Pdt Lucky Rumopa, bersama Sekretaris Hanny Sumakul, Wakil Ketua Syaban Mauludin dan I Made Serija, Kakanwil Kemenag Sulut H. Ulyas Taha, serta Ketua Tim Kerukunan Umat Beragama Kanwil Kemenag Sulut, Yeni Tandi.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara