
Alkitab Bahasa Manado
Manado – Sempat menjadi viral terkait Alkitab Bahasa Manado karena adanya pro dan kontra bahkan tidak sedikit tudingan terkait penggunaan bahasa Manado di media, mendapat tanggapan langsung dari tim penyusun Alkitab tersebut.
Tim penyusun Alkitab Bahasa Manado yang terdiri dari empat orang dengan SK Sinode GMIM yaitu Pdt, Yanti Karundeng, S.Th, Pdt, Lynda Goliot, S.Th, Pdt. Juliana Sapulete dan Jemmy Rompis akhirnya angkat bicara.
Kepada wartawan akhir pekan lalu, Yanti Karundeng menjelaskan pusat penerjemahan di penerjemahan Alkitab tim mengambil empat prinsip yaitu pertama tepat, yang kedua jelas, yang ketiga wajar dan yang keempat diterima, katanya usai membahas masalah Alkitab Bahasa Manado pada saat Rapat Konsultasi PKB di gereja Bukit Moria Tikala Baru. Berikut penjelasan Yanti Karundeng ditemani Lynda Goliot:
“Untuk tepat, itu tepat sesuai dengan teks aslinya yaitu bahasa Yunani sesuai dengan untuk perjanjian baru, dan untuk melihat asli dari dari makna penerjemahan asli ini kami tidak menerjemahkan secara harafiah, karena kalau menerjemahkan secara harafiah, artinya kalau tata bahasa yang kami gunakan adalah tata bahasa Yunani dan nanti bahasa Manado itu artinya bahasa Yunani yang di Manadokan, kami memaksa secara harafiah.”
“Karena itu kami memgambil arti dari teks asli ini dengan melihat tafsiran dari orang yang menerjemahkan Alkitab kedalam bahasa daerah.”
“Kemudian untuk jelas, kami menerjemahkan secara jelas itu pakai bahasa Manado yang memang diterima oleh orang-orang Manado, dan orang Manado ketika membaca itu jelas artinya apa.”
“Kemudian wajar, wajar dipakai hari-hari, itu uang dipakai sehari-hari di rumah, yang sehari-hari dipakai di pasar, yang dipakai waktu torang bergaul dengan orang yang pakai bahasa Manado itu,”
“Kemudian diterima, diterima jika sudah selesai dicetak, diterima oleh masyarakat dan jemaat yamg suka menggunakan Alkitab bahasa Manado ini, tapi Alkitab bahasa Manado ini ada bukan menggantikan perjanjian baru yang lembaga Alkitab sudah terjemahkan, tetapi menjadi pilihan untuk orang-orang Manado.”
“Jadi bukan orang Manado memang musti baca Alkitab bahasa Manado saja tetapi bisa juga membaca bahasa Indonesia, dan bahasa Manado menjadi pilihan.”
“Jadi mana yang dorang rasa enak mo baca, berbahasa Indonesia atau berbahasa Manado karena kami juga bekerjasama dengan lembaga Alkitab Indonesia dalam penerjemahan dam jiga pemeriksaan dengan konsultan dengan dari Lembaga Alkitab Indonesia itu sendiri,” jelas Yanti Karundeng yang ditemani Wakil Ketua Panitia Rapat Konsultasi PKB GMIM Harley Mangindaan.
Sementar itu untuk masa waktu pembuatan Alkitab Bahasa Manado itu sendiri menurut dia diselesaikan selama sepuluh tahun ditambah finishing hingga total dikerjakan selama lima belas tahun. (rizath polii)
