
Penulis: Tim Redaksi
Kasus dugaan eksploitasi anak di bawah umur yang menyasar remaja asal daerah berhasil dibongkar oleh aparat kepolisian di Pelabuhan Manado.
Dua remaja perempuan yang sedianya akan diberangkatkan menuju Sofifi, Maluku Utara, langsung diamankan petugas demi mencegah terjadinya Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).
Penyelamatan ini berlangsung dramatis saat keduanya bersiap naik ke atas kapal pada Sabtu (6/6/2026) malam.
Langkah sigap jajaran Polsek Pelabuhan Manado ini seketika memutus rantai pengiriman korban yang masih sangat belia.
Publik tentu terhenyak mengetahui betapa rapinya jaringan ini bergerak menyasar anak-anak demi keuntungan sepihak.
Peristiwa ini menjadi alarm keras bagi para orang tua di Sulawesi Utara mengenai ancaman nyata yang mengintai buah hati mereka.
Petugas mengamankan AM (15) dan NN (15) di Dermaga 8 Pelabuhan Lama Manado ketika hendak bertolak menggunakan KM Cantika Lestari 7F.
Keberangkatan kedua anak di bawah umur tersebut diduga kuat telah diatur dan difasilitasi oleh sebuah sindikat terstruktur.
Membongkar Modus Perekrutan Anak Berkedok Lowongan Kerja
Berdasarkan hasil interogasi awal di lapangan, petugas mendapati fakta mencengangkan mengenai modus perekrutan anak yang digunakan pelaku.
Salah satu korban membeberkan bahwa seluruh proses keberangkatan mereka dikendalikan oleh seorang wanita berinisial A. Perempuan tersebut diketahui merupakan pemilik sebuah tempat hiburan di Sofifi.
Untuk operasional di Manado, sosok perempuan lain berinisial S bertugas mengurus seluruh akomodasi. S berperan menyalurkan biaya keberangkatan sekaligus menyediakan tiket kapal bagi kedua korban.
Bukan hanya itu, sindikat ini juga nekat melakukan pemalsuan dokumen demi meloloskan korbannya.
Salah satu korban diminta menyiasati identitasnya dengan mengubah tahun kelahiran dari 2011 menjadi 2007 agar lolos dari pemeriksaan petugas pelabuhan dan dianggap sudah masuk usia kerja.
Jerat Eksploitasi Anak di Lokasi Hiburan Malam
Praktik eksploitasi anak ini semakin benderang setelah salah satu korban mengaku sudah pernah dipekerjakan di lokasi milik A di Sofifi.
Korban dipaksa melakoni pekerjaan sebagai Ladies Companion (LC) untuk melayani para tamu dewasa.
Dari pekerjaan malam tersebut, korban mendapatkan upah yang dihitung berdasarkan durasi waktu menemani pelanggan.
Ironisnya, pihak keluarga sama sekali tidak mengendus pekerjaan kelam yang menimpa anak perempuan mereka.
Orang tua korban melepas anak mereka karena mendapat informasi bahwa buah hati mereka hanya akan bekerja di sebuah rumah makan.
Kapolsek Pelabuhan Manado Ipda Christian Anton Langi menegaskan bahwa prioritas tertinggi saat ini adalah memberikan perlindungan menyeluruh bagi kedua korban.
Pihaknya bergerak cepat mengisolasi korban dari jangkauan para pelaku.
“Keselamatan dan perlindungan korban menjadi prioritas utama. Selanjutnya penanganan perkara diserahkan kepada Unit PPA Satreskrim Polresta Manado untuk dilakukan penyelidikan dan pengembangan guna mengungkap pihak-pihak yang diduga terlibat,” ujarnya.
Dalam penindakan ini, korps bhayangkara turut menyita sejumlah barang bukti krusial.
Polisi mengamankan satu unit telepon genggam, dua lembar tiket kapal rute Sofifi, serta satu lembar surat jalan yang memuat data identitas palsu korban.
Pihak kepolisian mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk tidak mudah tergiur dengan iming-iming kerja di luar daerah yang menawarkan gaji menggiurkan tanpa kejelasan kontrak.
Sinergi antara keluarga, lingkungan sekitar, dan instansi pemerintah menjadi benteng utama dalam memutus mata rantai eksploitasi anak dan perdagangan manusia.
