Berita Utama

Segudang Tantangan Mengadang Mimpi Indonesia Jadi Pemain Baterai EV Dunia

Bila para pelaku bisnis ingin mendapatkan penghapusan PPnBM hingga 2025, kata Rachmat, mereka juga harus berkomitmen memproduksi kendaraan listrik dalam jumlah yang sama dengan kendaraan yang diimpor.

Selain itu, mereka juga harus memenuhi persyaratan TKDN, yaitu minimum 40 persen pada 2026, naik menjadi 60 persen pada 2027 hingga 2029 dan minimum 80 persen pada 2030.

Namun, Jom Madan mengatakan persyaratan TKDN itu mungkin sulit dipenuhi di masa depan karena sejumlah tantangan dalam produksi baterai tadi.

“Ketika pemerintah (Indonesia) sedang mencoba untuk meningkatkan produksi baterai kendaraan listrik lokal, industri ini mungkin akan kesulitan bersaing dengan produsen baterai kendaraan listrik yang sudah mapan di China,” ujar Madan.

Persaingan Alternatif Baterai Tanpa Nikel

Industri baterai berbasis nikel Indonesia juga akan menghadapi meningkatnya persaingan dari baterai-baterai yang tidak menggunakan nikel.

Salah satunya yang sedang naik daun adalah baterai Lithium Ferro Phosphate (LFP), yang mengandung litium, besi, dan fosfat.

Menurut Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) dalam Global EV Outlook 2024 yang dirilis 4 April, penggunaan baterai EV dengan kandungan nikel tinggi dalam produksi baterai global turun menjadi 54 persen pada 2023, dari 61 persen pada 2022.

Sebaliknya, porsi baterai LFP meningkat menjadi 40 persen pada 2023, dari 28 persen pada 2021.

Secara performa, baterai berbasis nikel seperti NMC dan NCA (nickel, cobalt, aluminum), bisa menyimpan lebih banyak energi dalam ukuran yang lebih kecil dibanding LFP.

Namun, bahan baku LFP, yaitu besi dan fosfat, tersedia dalam jumlah besar dan mudah didapat dibandingkan nikel.

Dengan demikian, kendaraan listrik bertenaga baterai LFP bisa lebih murah daripada kendaraan listrik dengan baterai nikel.

Menurut IEA dalam laporan yang sama, harga baterai NMC berkisar hampir 25 persen lebih mahal daripada LFP.

Ketersediaan bahan baku juga yang menjadi salah satu faktor mendorong meningkatnya penggunaan LFP.

Sementara itu, kendaraan listrik impor yang masuk ke Indonesia kebanyakan menggunakan baterai LFP terutama dari China, yang memiliki hampir 100 persen kapasitas produksi LFP di dunia.

BYD adalah salah satu konsumen baterai LFP terbesar.

Menurut IEA, BYD menyumbang 50 persen permintaan baterai LFP untuk kendaraan listrik ringan, seperti mobil penumpang.

Evvy mengatakan produsen China, seperti BYD dan Wuling, mungkin akan tetap menggunakan baterai LFP jika memang berencana memproduksi kendaraan listriknya di Indonesia.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara