Putra Adiguna, managing director Energy Shift Institute, menambahkan pengembangan industri baterai EV di Indonesia muncul di tengah persaingan global yang sudah berjalan mapan.
Akibatnya, muncul kekhawatiran mengenai potensi pasar baterai kendaraan listrik berbasis nikel yang akan diproduksi oleh Indonesia.
Persaingan dengan China
Jom Madan, peneliti Energy Transition Research dari perusahaan konsultan global Wood MacKenzie menambahkan Indonesia mungkin akan kesulitan bersaing dengan produsen yang sudah mapan di China untuk membangun pabrik baterai skala besar atau giga factory karena sejumlah tantangan teknis.
“Dengan asumsi tantangan teknis tersebut dapat diatasi, persaingan akan semakin ketat karena pabrikan China telah mencapai integrasi skala dan rantai pasokan, yang telah terjalin selama beberapa dekade,” kata Madan yang menjawab pertanyaan VOA melalui email.
“Mendapatkan pasokan bahan berkualitas tinggi bukanlah solusi untuk hal ini,” imbuhnya.
Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) memproyeksikan, kapasitas produksi baterai lithium-ion China akan meningkat menjadi 2.93 terrawatt hour (Twh) pada 2025 dan 4.65 Twh pada 2030, dari 1.2 Twh pada 2022.
Karut-Marut Kebijakan Kendaraan Listrik
Para pengamat juga menyoroti sejumlah kebijakan kendaraan listrik yang dipandang justru bisa menghambat perkembangan industri domestik.
Misalnya, pembebasan pajak barang mewah (PpnBM) untuk kendaraan listrik jenis completely built-up (CBU) dan completely knock-down (CKD), yang seharusnya 15 persen, mulai Januari hingga Desember 2024.
Selain itu, pajak pertambahan nilai (PPN) untuk pembelian kendaraan listrik dipangkas, dari 11 persen menjadi 1 persen.
Banyaknya insentif memang telah menarik produsen kendaraan listrik terkemuka, termasuk Beyond Your Dream (BYD), CATL, Wuling dan Neta, untuk menjual produk mereka di Indonesia.
Namun, Profesor Evvy mengatakan insentif tersebut bertentangan dengan upaya Indonesia untuk mengembangkan kapasitas produksi kendaraan listrik.
Dia membandingkan dengan Vietnam yang meski tidak punya nikel, tetapi sudah mampu membuat kendaraan listrik nasionalnya sendiri, yang diproduksi oleh Vinfast.
“Saya di Vietnam delapan hari yang berseliweran mobil-mobil Vinfast. Kalau di sini (di Indonesia-red) yang ada Wuling, Hyundai. Yang produksi mobil kita mana? Indonesia ini jadi perang tanding mobil EV luar negeri,” kata Evvy.
Menurut data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Indonesia memproduksi 15.813 unit Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) sepanjang 2023, sedangkan pemerintah menargetkan produksi kendaraan listrik mencapai 600.000 pada 2030.
Artinya, dalam lima tahun ke depan, Indonesia harus memproduksi rata-rata 120.000 unit kendaraan listrik dalam setahun.
Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi Kementerian Koordinator Bidang Investasi dan Maritim, Rachmat Kaimuddin, dalam diskusi dengan Jakarta Foreign Correspondence Club (JFCC) beberapa waktu lalu menjelaskan insentif tidak diberikan begitu saja.
