Berita Utama

Segudang Tantangan Mengadang Mimpi Indonesia Jadi Pemain Baterai EV Dunia

Katoda, yang mencakup sekitar lebih dari 1/3 isi satu baterai kendaraan listrik, menentukan kapasitas penyimpanan daya dan kemampuan jarak tempuh sebelum mobil harus mengisi daya kembali.

Selain itu, katoda juga menentukan berapa kali baterai dapat diisi ulang daya.

Saat ini, sebagian besar dari sekitar 53 smelter di Indonesia baru bisa mengolah nikel menjadi nickel pig-iron (NPI), bahan setengah jadi untuk produksi baja tahan karat (stainless steel).

Meski produksi bijih nikel Indonesia meningkat tiga kali lipat sejak 2015, tiga perempat ekspor nikel Indonesia masih berkaitan dengan industri baja tahan karat dibanding untuk kendaraan listrik.

Jumlah produsen nikel sulfat pun bisa dihitung dengan jari.

Apalagi, Indonesia juga belum mempunyai fasilitas pembuatan katoda.

Meski telah ada perjanjian awal antara entitas Indonesia dan perusahaan global seperti LG dan Contemporary Amperex Technology Co. Ltd. (CATL) dari China, tetapi masih belum jelas kapan proyek-proyek itu akan mulai berproduksi.

“Kalau menurut saya, program hilirisasinya harus diteruskan karena belum kelar. Ini baru tahap pertama kok. Masih panjang. Jadi yang kita ekspor bukan MHP. Kita bisa menjadi raja baterai itu kalau bisa mengekspor katoda. Ini katoda belum diproduksi,” kata Profesor Evvy Kartini, salah satu pendiri National Battery Research Institute (NBRI), kepada VOA.

Sejauh ini, belum ada informasi dari mana pabrik sel baterai baru di Karawang, Jawa Barat, yang dioperasikan oleh PT Hyundai LG Indonesia (HLI) Green Power, akan mendapatkan pasokan katoda.

Pernyataan dari kantor Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal dan dari Sekretariat Kabinet mengenai peresmian pabrik HLI tidak menyebut sumber pasokan katoda.

Sebelumnya, pada akhir Januari lalu Menteri Investasi Bahlil Lahadalia mengakui smelter nikel dalam negeri saat ini memang baru memproduksi barang setengah jadi atau Nickel Pig Iron (NPI), tapi ke depan akan mulai memproduksi sel baterai.

Menurut Bahlil, Indonesia telah menarik komitmen investasi senilai $42 miliar untuk pembuatan baterai EV dari pemain global, seperti CATL, Foxconn Technology Group, Ford Motor Company, BASF, dan LG Solution.

Namun, baru-baru ini, perusahaan Prancis, Eramet dan BASF mengumumkan keduanya membatalkan rencana investasi bersama pembangunan kompleks pemurnian nickel dan kobalt di Teluk Weda.

“Eramet akan terus mengevaluasi potensi investasi dalam rantai nilai baterai kendaraan listrik nikel di Indonesia dan akan terus memberikan informasi kepada pasar pada waktunya,” kata perusahaan itu dalam pernyataannya pada 24 Juni lalu.

Kelebihan kapasitas

Tantangan lain yang dihadapi Indonesia adalah pasar global sudah kelebihan kapasitas pembuatan baterai.

Menurut data dari lembaga kajian CRU Group, kapasitas produksi baterai lithium-ion global sudah mencapai 1 terrawatt hour (TWh) pada 2023, melebihi permintaan riil sebesar 65 GwH.

China menyumbang 76 persen dari produksi baterai global.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara