MANADO – Gubernur Provinsi Sulawesi Utara Sinyo Harry Sarundajang mengusulkan persetujuan kerja sama perlindungan nelayan tradisional bersama dengan negara tetangga Filipina. “Usulan persetujuan ini untuk melindungi nelayan tradisional yang melakukan aktivitas penangkapan ikan di wilayah perbatasan,” kata Sarundajang saat menerima kunjungan Tim Phillipines Navy, di Manado, Selasa (24/4).
Usulan persetujuan bersama ini, kata gubernur, sangat penting untuk melindungi nelayan tradisional kedua negara yang karena keterbatasan alat navigasi tanpa sengaja beroperasi di wilayah yang tidak termasuk wilayah teritorial mereka.
Usulan ini, kata gubernur, mendapat respon positif dan akan disampaikan ke Pemerintah Filipina untuk dibahas lebih lanjut bersama Pemerintah Indonesia dalam kerangka Border Crossing Agreement antara Filipina dan Indonesia.
Sementara itu, dalam kunjungan tim angkatan laut Filipina, kata gubernur, juga dibicarakan bersama mengenai pelaksanaan patroli bersama antar angkatan laut Filipina dengan Lantamal 8 Manado. Sarundajang, mengatakan, pengamanan wilayah laut perbatasan Filipina dan Indonesia di Sulawesi Utara sangat penting dalam rangka mengatasi penangkapan ikan secara ilegal, perdagangan manusia serta kejahatan transnasional seperti terorisme.
“Patroli bersama ini sangat penting dan efektif untuk mengamankan wilayah laut di perbatasan Filipina dan Indonesia dari berbagai gangguan keamanan. Apalagi bila dilakukan dalam kerangka Border Crossing Agreement (BCA) antara Pemerintah RI dan Pemerintah Filipina,” katanya.
Pada kesempatan tersebut, gubernur menjelaskan tentang agenda internasional yang akan dilaksanakan di Provinsi Sulawesi Utara yaitu Pacific Partnership bersama US Navy yang mendatangkan USNS Mercy melakukan bakti sosial di perairan Sulut akhir bulan depan hingga pertengahan Juni.
Tim Phillipines Navy (Angkatan Laut Filipina) yang diterima gubernur dipimpin Commander Phillip L Cagayan sebagai AFP Commander of Naval Forces Eastern Mindanao dan Capt. Robert A Empedrad sebagai Deputy Commander For Fleet Operations serta Commander Lusviminda A Camacho sebagai kapten wanita Kapal AL Filipina BRP Magat Salamat.(niel)

Ini berarti realisasi dari Border Committee Chairmen’s Conference (BCCC) XXV tahun 2006, di Manado, yang antara lain menghasilkan hasilkan kesepakatan melakukan patroli bersama di daerah perbatasan kedua negara yang dilakukan empat kali dalam setahun.
Kegiatan ini penting, untuk menunjukkan kepada dunia, terutama kepada kepada USA, bahwa tidak ada sengketa kedaulatan antara Indonesia – Filipina atas pulau Mianggas, yang disebut Las pamas oleh USA. Bahkan Filipina tahun pada 1976, menyatakan bahwa mereka tidak mempunyai klaim atas pulau tersebut dan mengakui kedaulatan RI atas Pulau Miangas.