Agama dan Pendidikan

Sampai Kapankah Kisruh yang Melilit Unsrat?

Kantor Pusat UNSRAT Manado
Kantor Pusat UNSRAT Manado

Manado – Sengketa yang terjadi di Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado antara pihak Rektor bersama Senat Universitas dengan Dr Flora Kalalo SH MH dan kawan-kawan seakan terus akan berlanjut.

Pasalnya dari hasil putusan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PT TUN) Makassar yang memenangkan pihak Kalalo Cs. Pihak yang kalah yakni Rektor dan Senat Universitas telah melayangkan kasasi ditingkatan Mahkamah Agung (MA).

Entah sampai kapan perseteruan ini akan terus berlanjut, namun yang pasti dari beberapa pihak internal kampus yang wawancara BeritaManado.com kebanyakan mengharapkan agar konflik berkepanjangan ini segera teratasi.

“Harapan kami sebagai mahasiswa agar nama Unsrat ini cepatlah di kembalikan seperti semula, soalnya di setiap media cetak lokal selalu saja ada pemberitaan menyangkut perseteruan pihak-pihak yang ada di unsrat,” harap salah satu petinggi organisasi mahasiswa di Unsrat yang engan menyebutkan namanya.

Berbeda dengan mahasiswa, tanggapan dosen lain lagi. “Konflik di internal Unsrat yang melibatkan oknum-oknum dosen merupakan potret buramnya kampus Unsrat saat ini. Padahal harapan dari masyarakat kampus seharusnya menjadi fitrah dalam setiap problem sosial,” kritik salah satu dosen Fakultas Ekonomi yang tak ingin dipublikasikan.

Seperti diketahui kisruh di tubuh perguruan tinggi kebanggaan masyarakat Sulawesi Utara ini antara pihak Flora Kalalo cs dan pihak rektorat Unsrat semenjak Tahun 2010 silam.

Nah, bagaimana akhir dari kisruh ini? Menarik untuk ditunggu.(jkf)

5 tanggapan untuk “Sampai Kapankah Kisruh yang Melilit Unsrat?”

  1. rael ryady = flora kalalo

    flora bilang kata ‘Dia punya segalanya bahkan melebihi apa yang dimiliki oleh pak Donald Rumokoy’, baru dari situ so dapa lia ngana p makang puji, flora.apalagi bilang2 berjasa sampe beking jadi rektor. hahhaha geli ada baca…ngana memang sakit hati dan rasa dikhianiati kapa rektor lebe pilih merry bukang flora yg sama2 kalalo.nda usah mo putar bale sampe bawa2 mahasiswa trs bilang rektor diktator, dst.
    ngana dukung ralfie supaya jadi pd1, supaya berikut mo nae dekan mar samua so tau ada jadi bagamana.bagusnya sekarang smua org so tau ngana p model..bakaca kwa dulu.unsrat so lebe maju blg2 ganjal.dia kira ada bcirita dgn anak tk ini…hahahha

  2. Donald Rumokoy jd rektor , siapa Ibu Flora dan apa juga sampai sejauh mana peran Beliau bukan hanya kepada rektor tapi Keluarganya secara menyeluruh, pak Donald dan Ibu Telly juga anak2nya pasti tidak bisa melupakan Segala Kebaikan Ibu Flora kepada Mereka/Keluarga ini.
    Dan Ibu Flora tidak perlu merasa harus mengejar jabatan apapun di Unsrat akan tetapi hanya Justru sebagai orang yang tersakiti dan di khianati. Ibu Flora wajar bila akhirnya melakukan perlawanan karena Beliau mengetahui banyak juga keganjalan yang terjadi di dalam Unsrat ini dan saya Yakin bukan hanya Pihak Flora Kalao cs aja yg tahu tapi mungkin semua Mahasiswa juga tahu bahwa rektor mereka punya sifat diktator dan dilengkapi oleh si tangan besi istrinya yang materialistis !!!

  3. Bian@ siapapun anda, saya tdk tahu tdk kenal, tapi mgkn perlu saya beri tanggapan atau pandangan saya pribadi soal “kisruh” antara pihak rektor dan Pihak dari Flora Kalalo cs. Soal keinginan apa yg anda mksudkan kepada Pihak Flora Kalalo cs ? Mungkin mksud anda keinginan yg tak terpenuhi bisa saja jabatan atau ada maksud lain menurut anda? Bagi saya pribadi,Sosok Ibu Flora bukan type orang yg mgkn anda maksudkan,Beliau sosok yg tegas punya wibawa punya watak teguh terutama kepada hal ketidak adilan dan mengutamakan hal kebersamaan yang kompak dan supel makanya kenapa Ibu Flora Kalalo Banyak pengikutnya? Untuk hal ketidak puasan atau keinginan yg tdk terpenuhi bisa benar bisa salah karena saya tidak tahu keinginan apa yg dimaksud namun, perlu diingat bahwa keinginan apa yang tidak bisa Beliau dapatkan? Dia punya segalanya bahkan melebihi apa yang dimiliki oleh pak Donald Rumokoy yang kalau tidak berlebihan saya anggap beliau sebagai sosok yang rapuh tidak punya komitmen apalagi punya wibawa untuk menghilangkan kesan atau jejak bahwa sebenarnya kalau bukan Jasa Ibu Flora Kalalo, Pak Donald R ini gak bakal jadi rektor. Orang yg hanya kenal rektor saja dan mungkin menganggap Ibu Flora hanya mengejar keinginan sesuatu entah apa itu, tidak pernah tahu sebelum

  4. Bukan buram kalau saya. Ada beberapa hal yang perlu dicermati;
    1. Di perguruan tinggi sistemnya beda dengan di birokrasi pemerintah yang umum. Di perguruan tinggi terutama dosen dseperti dilingdungi oleh “kebebasan mimbar akademik”. Persoalannya muncul ketika itu berbenturan dengan etika dan norma birokrat/birokrasi. DOsen bisa mengkritik habis habisan pimpinan universitas tanpa merasa takut, dikucilkan bahkan dipecat. Sementara di birokrat pemintah lainnya ABS dan tunduk atasan itu harga mati. Perbedaan ini membuat para dosen besar kepala.
    2. Masih ada hubungan dengan yang pertama; Di perguruan tinggi hari ini kita menjadi pimpinan besok boleh jadi dosen atau pengajar biasa. Tidak seperti di birkrat pemda atau pemkot misalnya; mereka libiear, artinya naik terus, atau tetap staf biasa sampai pensiun. Guburnur dan bupati tidak akan pewrnah jadi staff biasa, begitu juga sekot dan sekda, ketika sampai pada posisi itu mereka tidak akan turun jadi staf ahli.
    3. Kelompok senatores, para guru besar atau majelis guru besar itu adalah para dosen, mereka boleh jadi profesor atau dekan atau rektor. Ada kelompok profesor yg tidak sependapat dgn pimpinan dimana mereka bisa langsung frontal dgn rektor.
    4. Keunikan ini disatu pihak baik, kontrol pada perguruan tinggi dan independensi dosen dan guru besar sangat dihargai. Tetaapi ketika berbicara kepentingan persoalan jadi lain.
    5. Contoh dalam kasus Unsrat ini, para dosen Flora cs, didukuing oleh satu dua prof, menghasilkan protes yg bermuara ke PTUN, dari sisi mreka katanya untuk menegakkan keadilan, apa itu benar? coba di Unsrat torang referendum kalau diatas 50% akan ikut Flora cs. Indikatornya terlihat nyata; apakah ada keresahan ketidak puasan yg muncul sporadis diUnsrat?. Ketidak puasan Flora cs bukanlah menggambarkan ketidakpuasan civitas akademika Unsrat, sama sekali tidak
    jadi saya berpendapat bukan potret buram di pendidikan Unsrat, tapi potret buram para segelintir dosen yg keinginannya tidak terpenuhi. Yang memiliki ‘pengetahuan’ untuk mencari celah.
    Sementara sebagai orang beriman jika “keinginan” maksud, cita2 belum terpenuhi mustinya sebagai orang percaya mengembalikan kepada pencipta, mungkin ada maksud Tuhan yang lain. Tapi Flora cs lain, ketika tidak terpenuhi langsung PTUN karena tahu celah. Tetap kebenaran cepat atau lambat akan muncul.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara