
Sangihe, BeritaManado – Umat Stasi Santo Paulus Laine merayakan Ibadah Sabda Minggu Biasa XXII yang dipimpin oleh Frater Diakon Jacky Mononimbar, Pr. Dalam perayaan iman ini, umat diajak semakin memahami arti kerendahan hati dan bagaimana hidup sebagai pribadi berharga di hadapan Tuhan.
Bacaan Kitab Suci hari itu diambil dari Sirakh 3:17-18.20.28-29, Ibrani 12:18-19.22-24, serta Injil Lukas 14:1.7-14. Ketiga bacaan tersebut menuntun umat untuk tidak mencari kehormatan bagi diri sendiri, melainkan berusaha mencari perkenanan Tuhan.
Dalam renungannya, Frater Jacky menegaskan bahwa orang beriman dipanggil untuk menjadi pribadi yang bernilai bukan karena mencari muka di hadapan sesama, melainkan karena hidup berkenan di hadapan Tuhan.
“Jangan meninggikan diri agar tidak direndahkan, tetapi belajarlah merendahkan diri supaya pada waktunya Tuhanlah yang akan meninggikan kita,” ungkap Diakon Jacky.
Mengacu pada Injil Lukas, ia menjelaskan bagaimana Yesus menegaskan bahwa ketika seseorang diundang dalam sebuah pesta, janganlah memilih tempat terhormat di depan. Sebaliknya, duduklah di tempat paling rendah, agar jika tuan rumah mempersilakan berpindah ke depan, orang itu justru dihormati di hadapan banyak orang.
Yesus mengajarkan bahwa, “Siapa yang meninggikan diri akan direndahkan dan siapa yang merendahkan diri akan ditinggikan.” Sikap rendah hati inilah yang menjadi dasar hidup umat beriman.
Lebih jauh, Frater Jacky mengaitkan bacaan-bacaan hari itu dengan situasi kehidupan masyarakat dan bangsa. Ia menekankan bahwa sebagai umat Allah, kita tidak diajak menambah kekisruhan dengan demonstrasi atau tindakan yang memecah belah, melainkan mempersembahkan doa demi kebaikan negeri.
“Marilah kita berdoa supaya bangsa ini berkembang ke arah yang lebih baik. Sebagai orang beriman, kita tidak boleh menindas atau ditindas, tidak membiarkan kebaikan dikalahkan oleh keburukan. Semua tergantung pada pilihan kita untuk melihat dengan bijaksana dan menjadi cermin bagi sesama,” pesannya.
Renungan Minggu Biasa XXII ini menjadi ajakan bagi seluruh umat untuk menjadikan kerendahan hati sebagai jalan hidup. Dengan rendah hati, umat tidak hanya memuliakan Tuhan, tetapi juga menghadirkan kasih bagi sesama dalam kehidupan sehari-hari.
(IvAn-Xaverius)
