Agama dan Pendidikan

Refleksi Iman: “Jangan Terbawa Arus” (Kitab Ibrani 2:1-4)

Dengan demikian komunikasi kita tidak melalui “perantara” (malaikat) lagi.

Sebagaimana hukum Taurat yang diberikan Allah melalui malaikat-malaikat (lih.Kis.7:53, Gal.3:29) tetapi kita sudah terhubung langsung melalui Yesus yang telah memperlengkapi tiap orang percaya dengan meneguhkan kesaksian melalui tanda-tanda, mujizat-mujizat dan oleh berbagai bagai penyataan kekuasaan dan karunia Roh Kudus (ay 4).

Oleh sebab itu kita jangan “menyia-nyiakan” membangun hubungan baik antara kita dengan Allah.

Sebab ketika firman Allah disampaikan melalui perantara “malaikat” memiliki konsekuensi hukuman yang setimpal.

Apalagi keselamatan Allah didalam Yesus disia-siakan maka tidak ada harapan melainkan kita akan menghadapi “penghakiman” ( lihat psl 10:27).

Oleh sebab itu Kitab Ibrani mengingatkan agar “jangan hanyut dibawah arus” (ay 1).

Yang dimaksud adalah jangan terbuai dengan keadaan.

Apalagi kata kata yang enak didengar, kata kata hasutan yang dibungkus dengan retorika apalagi meng-copy paste firman Allah untuk kepentingan tertentu, akhirnya suara kritis profetis “terdomestikasi” (jinak) dengan keadaan.

189 tahun yang lampau, tepatnya tanggal 12 Juni 1831, Johan Frederich Riedel dan Johan Gotlieb Schwarz.

Yang secara official diutus melayani ke wilayah Minahasa oleh Nederlandse Zendeling Genootschap (NZG) sebuah badan Pekabaran Injil asal Belanda.

Mereka masuk dan membaur dengan warga masyarakat dengan membangun komunikasi yang sederhana dengan “mendengar”dan “ meneliti” kebutuhan kebutuhan masyarakat, sehingga dua sahabat ini yang pernah sebagai “tukang cepatu” di Jerman.

Berhasil memikat masyarakat dengan bahasa-bahasa yang hidup, mereka bukan sekedar membaptis orang tetapi memberi pelajaran pelajaran iman dan menjawab “Firman” dengan ketrampilan “karunia-karunia Roh Kudus” melalui talenta di bidang pertanian, kesehatan dan berbagai ketrampilan teknik pertukangan, dan lain-lain.

Populasi Kristen bertumbuh pesat dengan jumlah 80.000 jiwa di tahun 1876.

Pusat pusat pendidikan dan kesehatan serta gereja–gereja di bangun dan memiliki struktur organisasi yang kuat dan akhirnya juga melatih tenaga-tenaga pribumi menjadi guru-guru jemaat.

Pekabaran Injil dan Pendidikan Kristen tidak dapat dipisahkan, keduanya ibarat “busur dan panah” yang dengan berjalannya waktu hingga sekarang Tahun 2020 GMIM telah memiliki 1.003 jemaat, 127 wilayah, 332 TK, 364 SD, 64 SMP, 20 SMA, 6 sekolah kejuruan, memiliki 2 pusat pelatihan dan ketrampilan serta universitas dan rumah-rumah sakit.

Pekabaran injil dan Pendidikan Kristen tidak bisa terpisahkan dan bukan terbawa “arus” dengan perayaan “serimonial” yang walau secara historis telah meletakan dasar-dasar iman Kristen sebelum kemerdekaan.

Tetapi bagaimana komunikasi iman yang di bangun oleh mereka yang telah meletakan pendidikan Kristen berakar kuat dan bertumbuh menjadi berkat bagi dunia dan manusia.

Ada sebuah nyanyian yang dikembangkan oleh pimpinan GMIM pribumi pertama ds AZR Wenas “..tanam bete bete dan batata, ubi pisang rica tamate, poki poki dan sayuran untuk kita semua” adalah bentuk komunikasi yang menjadi inti pengajaran “Firman” menjadi tindakan nyata.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara