Agama dan Pendidikan

Mengkaji Kembali Sikap Iman Kristen di Tengah Tantangan Toleransi

Mengkaji Kembali Sikap Iman Kristen di Tengah Tantangan Toleransi
Pdt. Lucky Rumopa, M.Th. Foto: Ist

Manado, BeritaManado.com – Menyikapi maraknya peristiwa intoleransi dan pengrusakan rumah ibadah yang terjadi belakangan ini, tokoh Kristen Sulawesi Utara, Pdt. Lucky Rumopa, M.Th, mengajak umat Kristen di seluruh tanah air untuk merespons dengan penuh hikmat dan kebijaksanaan.

Menurutnya, seruan untuk bersatu di antara umat Kristen adalah hal yang sangat penting, namun perlu diwujudkan dengan pendekatan yang inklusif dan dialogis.

“Umat Kristen perlu mengkaji kembali pendekatan-pendekatan kekristenan di tanah air, terutama dalam menghadapi berbagai perbedaan, baik secara teologis maupun sosiologis. Dibutuhkan program-program yang lebih akurat dan terbuka terhadap keberagaman yang ada,” ungkap Pdt. Rumopa.

Ia menekankan pentingnya dialog yang transparan di tengah realitas denominasi gereja yang beragam.

“Seruan untuk menyatu jangan hanya bersifat simbolik atau emosional, apalagi sampai terjebak pada polarisasi dakwah atau cara menginjil yang eksklusif. Itu bisa menjadi bumerang dalam membangun kerukunan di tengah masyarakat majemuk,” ujarnya.

Lebih lanjut, Pdt. Lucky mengingatkan agar sikap fanatisme tidak menjadi alat untuk menyudutkan pihak lain.

“Fanatisme yang diekspresikan secara berlebihan justru dapat menimbulkan luka dan ketersinggungan. Kita perlu kembali pada semangat pelayanan yang rendah hati dan bijaksana, sesuai nasihat Tuhan Yesus: ‘Cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati’,” kata dia.

Ia juga mengajak gereja-gereja untuk melakukan introspeksi, mengevaluasi kembali penatalayanan dan cara bersaksi di tengah masyarakat.

“Sudah saatnya kita menumbuhkan sikap terbuka dan menjauhi eksklusivitas yang bisa menutup ruang dialog. Kesaksian iman kita akan kuat bila disampaikan dalam kasih dan ketulusan,” tuturnya.

Sebagai penutup, Pdt. Lucky Rumopa menegaskan bahwa seruan bersatu hendaknya tidak diwujudkan dalam bentuk aksi fisik seperti demonstrasi balasan.

Sebaliknya, persatuan umat Kristen harus tampak dalam solidaritas rohani, doa, dan kesaksian hidup yang membawa damai.

“Mari kita menjadi pembawa terang dan damai, bukan bara dalam tumpukan jerami,” pungkasnya.

(rds)

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara