Menariknya, Mimbar Bebas Refleksi 28 Tahun Reformasi tidak hanya diisi dengan orasi, tetapi juga penampilan seni, puisi, musik, dan budaya.
Hal itu menunjukkan bahwa demokrasi bukan hanya soal politik, tetapi juga ruang kebebasan berekspresi, berpikir, dan berkarya secara bertanggung jawab.
Menutup sambutan, ia mengajak seluruh elemen masyarakat Sulawesi Utara untuk terus menjaga persatuan, toleransi, dan kedamaian sebagai modal utama pembangunan daerah.
“Mari kita rawat semangat Torang Samua Basudara sebagai kekuatan moral dalam membangun Sulawesi Utara yang maju, sejahtera, dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Tampak hadir juga mahasiswa-mahasiswa, aktivis-aktivis senior, jurnalis serta tamu undangan.
