Sebelumnya ada empat, itupun melalui proses seleksi dari ratusan calon.
Tiga rekan Dandung tidak lolos.
Tersisa dirinya, Dandung kemudian berdoa sesaat sebelum pengumuman.
Di atas sajadah umat Muslim, Dandung berlutut dan berdoa.
“Waktu itu di lapangan, disediakan sajadah untuk calon taruna sujud dan berdoa. Saya juga izin berdoa di atas sajadah itu,” kenangnya.
Dandung tidak meminta pada Tuhan untuk diluluskan.
Ia hanya memohon agar kiranya tekadnya itu berbau harum di hadapan Tuhan.
“Saya bilang, Tuhan jika ini berkenan di hadapanMu hamba siap. Tapi apapun keputusan dariMu pasti adalah yang terbaik bagi hamba,” ucap Dandung mengingat momen itu.
Puji Tuhan, Dandung lolos menjadi Taruna Akpol.
Ia berhasil membawa mutiara dari dasar lautan, dan mengangkat derajat orang tua.
Dandung merasakan betul kasih Tuhan pada dirinya.
Karena bagi Dandung, siapalah dirinya.
Saingannya waktu itu kebanyakan dari kalangan elit.
Dandung tak berhenti bersyukur.
Terlebih saat bertemu dengan sang pujaan hati yang merupakan hamba Tuhan.
Ia merasa hidup makin berimbang.
Dirinya penegak hukum, di sisi lain ada istri sebagai gembala Tuhan yang konsisten melayani di bidang gerejawi.
Bagi Dandung, di kepolisian adalah kesempatan untuk melayani Tuhan juga.
