Amurang – Desa Kotamenara, Kecamatan Amurang Timur, Minahasa Selatan (Minsel) hampir 90 persen masyarakatnya berpenghasilan ‘Cap Tikus’ (Minuman beralkohol khas Minahasa). Perkampungan yang terletak dekat gunung berapi Soputan, penduduknya berjumlah 235 Kepala keluarga (KK).
Desa Kotamenara, sebenarnya telah berdiri sejak tahun 1952, namun karena letusan gunung berapi soputan, maka pemerintah daerah (Minahasa induk) merelokasi kampung ini pada tahun 1985.
“Kampung lama sebenarnya telah berdiri sejak tahun 1952, karena bahaya letusan dahsyat gunung soputan pada tahun 1982, maka Desa Kotamenara di relokasi tahun 1985. Sekitar 2 kilometer dari kampung yang lama,” ujar Hukum Tua, Desa Kotamenara, Joike Sondakh yang telah menjabat untuk yang kedua kalinya.
Menurut Sondakh, awalnya warga Desa Kotamenara berasal dari penduduk Desa Kanonang (Minahasa induk). Untuk itu sebutan ‘Kotamenara’ adalah Kanonang Oleh Tolongan Allah, Mendapat Negri Alam Rakyat Asli (Kotamenara). Pada tahun 1985 Desa Kotamenara Didevinitifkan.
Akses satu-satunya menuju desa ini adalah dari pertigaan Desa Lopana, Amurang Timur sekitar 18 kilometer. Sementara infratruktur jalan telah di hotmix, namun belum sampai di perkampungan.
“Masyarakat sangat mengharapkan ada jalur evakuasi, dan desa terdekat adalah Desa Ranolambot, Minahasa induk, hanya berjarak sekitar 7 kilometer. Namuns sayangnya masih berupa jalan setapak. Kami sudah usulkan ke pemerintah kabupaten Minsel, namn hingga kini belum ada realisasi,” ketus Sondakh.
Sondakh menjelaskan, jalur evakuasi sangat penting. Sebab akses satu-satunya hanya dari Amurang. Takutnya jika bencana alam, lantas jalan utama terputus maka tidak ada lagi jalan keluar.
“Selain tahun 1982 letusan gunung berapi yang sangat berbahaya, juga terjadi pada tahun 2008. Memang untuk jalur lahar panas tidak akan sampai ke desa kami. Karena cukup banyak lembah yang menghalaing. Tapi debu soputan, jika letusan terjadi sering menggelapkan desa kami. Seperti halnya tahun 2008 lalu yang cukup membuat masyarakat ketakutan,” papar dia. (sanlylendongan)

