
Manado, BeritaManado.com – “Kalau kita terus bertahan di balik jubah tradisional, jangan salahkan jika Sulawesi Utara akan terus tertinggal,” hal ini disampaikan oleh Ketua Pengurus Provinsi Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Sulut, Drs Pontowuisang Kakauhe dalam Penataran Wasit dan Pelatih Pencak Silat, Minggu (15/6/2025).
Ia melanjutkan, kondisi perkembangan pencak silat Sulut saat ini diakui masih tertinggal dibandingkan daerah lain.
Oleh sebab itu, IPSI Sulut menekankan bahwa penataran pelatih dan wasit ini adalah langkah strategis dan keputusan maju yang harus disambut dengan penuh semangat, sebagai wujud kesiapan untuk berubah dan berkembang.
“Kita bisa saja belajar dari buku, laptop, atau menonton video di YouTube. Tapi dalam konteks organisasi, semua tetap harus berpijak pada dasar hukum dan sistem yang sah. Sepintar apa pun seseorang, tanpa pijakan organisasi, itu akan sia-sia,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menyebut bahwa menutup diri dari perkembangan zaman adalah awal dari kemunduran.
Banyak contoh nyata dari luar daerah yang menunjukkan bahwa pencak silat terus bertransformasi, termasuk lewat sistem pendaftaran dan pelatihan berbasis daring.
Namun di Sulut, sikap resistensi terhadap perubahan kadang masih begitu kuat.
“Kalau masih ada yang berpikir ‘kase iko jo’ atau asal jalan begitu saja, maka kita akan terus jadi penonton. Jangan sampai wasit dan pelatih dari Sulut keluar daerah tapi tidak memahami perkembangan aturan. Itu bukan hanya memalukan, tapi juga membodohi diri sendiri,” tegasnya lagi.
Menurutnya, dalam dua tahun terakhir mulai tampak perubahan positif kesadaran terhadap pentingnya kompetisi dan profesionalisme mulai tumbuh.
Kunci perubahan ada pada keberanian membuka diri. Sulut butuh pelatih dan wasit yang bukan hanya jago secara teknik, tapi juga memiliki budaya, visi, dan kesadaran organisasi yang kuat.
“Tidak ada yang istimewa, tidak ada yang terkecuali. Yang membedakan adalah siapa yang berani mempertahankan eksistensi budaya sekaligus membuka diri terhadap perubahan,” pesannya.
Dalam kesempatan tersebut, 16 peserta menyatakan siap menjalani penataran dan membuka diri terhadap sistem baru. Ini dianggap sebagai langkah awal penting untuk membentuk pelatih dan wasit berbudaya, yang memahami aturan tidak sekadar teks, tapi juga konteks.
“Gunakan baik-baik kesempatan ini. Ambil hikmahnya. Karena silat harus berkembang sesuai zaman, dan Sulut tidak boleh lagi tertinggal,” akhirnya.
(Jhonli Kaletuang)
