Tagulandang-Bagaimana rasanya dibuang dari pemerintahan? Coba tanyakan itu pada Wakil Bupati Kabupaten Kepulauan Sitaro, Drs Piet Hein Kuera. “Sakit,” kata dia.
Beberapa saat terakhir, Kaka Piet, begitu Kuera biasa disapa, mengaku seperti ditinggalkan para pejabat. “Untuk kunjungan sosial saya tidak dilibatkan, dulu kalau ada acara duka biasanya saya diberitahukan untuk melayat secara resmi, tapi sekarang tidak lagi,” tandasnya, Rabu (24/4).
Begitu pula halnya dengan perpindahan ataupun pergantian pejabat, sebagai pimpinan seharusnya Kuera ikut dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Namun tidak ada lagi koordinasi untuk itu. Demikian dengan rapat-rapat strategis lain, Ketua DPD II Partai Golkar Sitaro itu pun sudah tidak lagi diajak.
“Inilah politisasi dalam pemerintahan, saya jadi korban dan rasanya sakit kalau ditinggalkan seperti ini, padahal saya tidak pernah bikin susah para pejabat, apalagi kan sekarang menjelang suksesi kepala daerah dan saya ikut sebagai incumbent,” tandasnya. (alf)

Dulu le kwa Kaka Piet cuma Pak TONI da angkat dari jurang depe istilah, skarang mo menuntut macam macam. Syukur banya So dapa bli banya tanah di siau, banya truk, bini kedua So banya perhiasan mas, tu hari kita da Lia ada belanja Deng bini di toko mas istana. Mo Apale? Doi itu So bole pake kampanye bayar utang sewa oto pa ungke renol
@ raldy wang !!! k’lo bole kita mo usul ngana jo jadi bupati dang
Itulah nasibnya “WAKIL.” Ban serep. Waktu dibutuhkan dicari. Waktu kampanye diperlukan utk dapat suara. Tapi setelah pemerintahan jalan Bupati yg atur semua. Bukan hanya Kaka Piet yg alami. Tanya semua org yg pernah jadi wakil, muali dgn wakil Presiden M. Hatta. Jadi Kaka Piet terimalah nasibnya dan jangan mau jadi wakil lagi. Jadilah paling kurang “calon Bupati”
kaka Piet ini le pura pura. so banyak pejabat yang jaga baku dapa dgn kaka Piet. mar dorang itu secara diam2 so membelakangi Tonsu. bahkan so jaga b kampanya terselubung. heeeheeeheee