Internasional

Permintaan Emas Kuartal I 2026 Naik 2 Persen, Ini Pemicu Utamanya!

Sejumlah pelanggan memilih perhiasan emas di sebuah toko bebas bea di Haikou
Sejumlah pelanggan memilih perhiasan emas di sebuah toko bebas bea di Haikou, Provinsi Hainan, China selatan, pada 17 Januari 2026. (Xinhua/Guo Cheng)

Penulis: Sri Surya

Catatan rekor mengejutkan kembali tercipta di pasar logam mulia global pada awal tahun ini. Permintaan emas dunia dilaporkan mengalami pertumbuhan sebesar dua persen secara year on year (yoy), berhasil menyentuh angka fantastis di level 1.231 ton pada kuartal pertama (Q1) 2026.

Fakta menarik ini terungkap ke publik melalui sebuah laporan industri terbaru yang diterbitkan pada hari Rabu (29/4/2026), di mana total volume tersebut telah mencakup seluruh perdagangan pasar bebas atau over the counter (OTC).

ADVERTISEMENT

Dampak dari fenomena ini sangat terasa dan menjadi sorotan besar, terutama jika melihat pergerakan masif di kawasan Asia.

Para pemodal di benua ini tampak berlomba-lomba mengamankan aset fisik mereka.

Hasrat untuk memborong emas batangan maupun koin memicu lonjakan luar biasa yang mengubah peta transaksi global.

Ini bukan sekadar tren biasa, melainkan momentum bersejarah yang menempati posisi tertinggi kedua sepanjang masa pencatatan industri.

Demam Emas Batangan di Kalangan Investor Asia

Berdasarkan laporan resmi yang dirilis oleh Dewan Emas Dunia (World Gold Council/WGC), selera pasar terhadap instrumen investasi fisik memang tengah melonjak tajam.

Tercatat ada eskalasi permintaan hingga 42 persen (yoy) khusus untuk kategori koin dan batangan.

Total volume serapan untuk kedua instrumen investasi ini sukses menyentuh angka 474 ton hanya dalam kurun waktu tiga bulan pertama.

Menariknya, dinamika yang berbeda justru tergambar pada sektor ritel perhiasan.

Volume logam mulia yang terserap untuk pembuatan perhiasan secara fisik mengalami penyusutan sebesar 23 persen, hanya menyisakan angka konsumsi sebesar 300 ton.

Namun di balik penyusutan volume tersebut, terdapat anomali yang luar biasa.

Tingkat pengeluaran dana masyarakat untuk menebus perhiasan justru meroket tajam hingga 31 persen.

Fakta ini menjadi indikator tak terbantahkan bahwa sentimen positif dan gengsi terhadap perhiasan emas di mata publik sama sekali tidak pudar.

Jejak AI dan Bank Sentral di Balik Permintaan Emas

Tidak hanya digerakkan oleh investor ritel individu, lembaga keuangan raksasa tingkat negara juga tidak mau ketinggalan langkah.

Sepanjang kuartal ini, bank-bank sentral dunia terus memborong aset safe haven ini secara konsisten.

Data dari WGC merangkum adanya penambahan sebesar 244 ton emas baru yang kini tersimpan rapat dalam brankas cadangan global.

Sementara itu, lompatan teknologi modern turut memberikan sumbangsih yang sangat spesifik pada kuartal ini.

Kebutuhan material logam mulia untuk keperluan sektor teknologi mengalami pertumbuhan tipis satu persen, mendarat di angka 82 ton.

Menurut laporan industri tersebut, kebutuhan ini rupanya didorong kuat oleh proyek infrastruktur kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang terus dibangun secara masif dan berkelanjutan.

Sebagai penyeimbang dari melambungnya permintaan emas di seluruh dunia, rantai pasokan global ternyata mampu merespons dengan optimal.

Total pasokan emas ke pasar tercatat ikut merangkak naik dua persen menjadi 1.231 ton.

Kestabilan pasokan ini tertolong oleh pertumbuhan moderat dari kapasitas produksi area pertambangan, serta sumbangsih peningkatan lima persen yang berasal dari sektor industri daur ulang logam mulia.

Sumber: Kantor Berita Xinhua | Dipublikasikan atas kerja sama dengan BeritaManado.com.