BITUNG—Belum lama beroperasi, Perusahaan Daerah (PD) Bangun Bitung dikabarkan mulai dililit hutang. Lebih parahnya lagi, menurut informasi, perusahaan yang menangani KM Tude, Terminal Kayu dan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) tersebut berutang ke pihak ketiga arau rentenir dengan bunga 25 persen.
Akibat terlalu tingginya bungan yang harus ditanggung PD Pembangunan Bitung setiap bulan, sehingga beberapa bulan terakhir hak karyawan tidak bisa terbayarkan. Dan yang lebih memilukan, sudah empat bulan terakhir ini hak karyawan belum bisa diterima karena harus membayar bunga terlebih dahulu.
“Menurut informasi PD Pembangunan Bitung harus mencari cara setiap bulan untuk membayar bunga pinjaman dari rentenir yang tentu berimbas pada pembayaran gaji karyawan,” kata salah satu sumber yang dapat dipercaya di PD pembangunan Bitung.
Padahal menurut sumber, sebelum beroperasi PD Pembangunan Bitung mendapat suntikan dana dari Pemkot Bitung sebesar Rp500 juta dan bantuan dari pemerintah pusat sekitar Rp1 miliar lebih. “Harusnya anggaran tersebut cukup dan tidak perlu sampai harus melakukan pinjaman ke pihak rentenir, yang ujung-ujungnya karyawan yang dikorbankan,” katanya.
Menanggapi hal tersebut, personil LSM Lembeh Bersatu, Muzakhir Boven mengaku sangat prihatin dengan kondisi keuangan PD Pembangunan Bitung. Apalagi harus meminjam uang terhadap pihak rentenir yang bunganya selangit.
“Jelas ini memprihatinkan dan harus segera dicarikan solusi, jangan hanya didiamkan saja. Apalagi gaji karyawan sudah tidaj dibayar dalam empat bulan hanya karena menutupi utang,” kata Boven.
Boven berharap pihak Pemkot tidak tinggal diam dan segera melakukan audit terhadap sistim keuangan perusahaan tersebut. Dan secepatnya mencarikan cara agar gaji para karyawan bisa dituntaskan dalam waktu dekat ini.
Sementara itu, Direktur PD Pembangunan Bitung, D.J. Mamesah yang cobe dikonfirmasi Minggu (9/10) lewat telepon tidak membuahkan hasil. Pasalanya nomor handphone miliki Mamesah dalam keadaan tidak aktif.(en)
