
Yogjakarta, BeritaManado.com — Sebuah Sanggar Musik di Daerah Istimewa Yogyakarta yang familiar dengan sebutan Rumah Musik Nafs-i-gira melahirkan lagu-lagu bernilai seni tinggi khususnya di bidang musik liturgi gereja, dimana salah satunya “Komuni Batin”.
Yang lebih membuat hasil garapan Yulius Panon Pratomo ini menyentuh relung batin, karena lagu tersebut diciptakan pada masa-masa sulit seperti saat Pandemi COVID-19, dimana kebanyakan orang lebih banyak beraktivitas di rumah, termasuk salah satunya beribadah.
Kepada BeritaManado.com, Minggu (5/7/2020) siang, Yulius Panon Pratomo menuturkan sekilas cerita lahirnya karya-karya yang identik dengan duet memadukan suara perempuan dan laki-laki yang dibawakan Antonia Filicia Esa Rindi dan Marcel Andre Toisuta.

Lagu Komuni Batin tersebut meurut Yulius Panon Pratomo adalah untuk memenuhi kerinduan hati umat Katolik yang hingga saat ini sebagian besar masih mengikuti Misa atau Perayaan Ekaristi di rumah melalui siaran live streaming.
“Tentu ada kerinduan yang begitu besar untuk menyambut hosti, namun karena situasi tidak memungkinkan, maka kami mencoba melakukan sesuatu melalui lagu Komuni Batin ini,” ungkapnya.
Selama Pandemi COVID-19 ini, Yulius sendiri mengaku tidak bisa mengajar di sanggar musik, hingga akhirnya bersama beberapa teman seperti Antonia dan Marcel bisa mengumpulkan karya, melakukan editing dan juga rekaman berkat adanya donatur.
“Hadirnya lagu Komuni Batin dan beberapa lagu lainnya membuat saya yakin bahwa lagu gereja, entah rohani ataupun liturgi, hahrus kembali ke pendalaman syair terlebih dahulu untuk mengetahui maknanya. Setelah itu baru dirancang konsep not-nya. Dalam lagu-lagu yang dihasilkan, kami menampilkan solo dan duet,” jelas Yulius.

Sarana untuk menuntun perziarahan Yulius dan rekan-rekannya
Lagu Komuni Batin tersebut juga menjadi sarana untuk menuntun perziarahan Yulius dan rekan-rekannya untuk terus berkarya dalam situasi susah dan senang, dimana nama Nafs-i-gira itu sendiri berarti pencerahan dan diadopsi dari bahasa Arab yang dipakai di Pakistan untuk menyebut daya intelek yang membimbing pencerahan sekaligus hasilnya.
Yulius sendiri dahulu merupakan seorang peneliti sosial yang mengawali lahirnya Nafs-i-gira tahun 2006 dan di tahun 2007 mulai menerima murid untuk belajar musik hingga saat ini, dimana pelayanannya terfokus pada dua karya yaitu sanggar belajar dan produksi musik.
Untuk pembelajaran, Nafs-i-gira menerapkan not balok, karena itu merupakan warisan gereja dari Guido Arozzo, seorang rahib Benediktin, dimana semua teori musik yang biasanya dihafal, dengan metode yang diterapkan menggunakan nalar yang dapat membimbing praktek.

“Lagu Komuni Batin itu sebenarnya telah dinyanyikan terlebih dahulu oleh Esa dan saya yang mengiringinya lalu diupload di Instagram. Setelah ada donatur, kami membuat rekaman. Dengan bantuan seorang teman untuk divideokan, hasilnya kami upload di Youtube dan tanggapannya sangat positif. Selain di Nafs-i-gira, saya juga mendorong terbentuknya komunitas musik untuk mengiringi di gereja,” tutur Yulius.
Dalam setiap syair lagu Nafs-i-gira, unsur-unsur yang terkandung antara lain adalah filsafat, teologi, pengolahan batin dan sebagainya hingga membentuk syair lagu nuansa musik gereja yang kental, diiringi melodi yang harmonis.
“Bulan ini kami rencana akan melakukan launcing album dalam bantuk CD dan Buku Lagu Requiem berjudul Perjamuan Nikah Anak Domba. Kami memohon topangan doa dari siapa saja yang sudah mengetahui karya-karya kami. Kami juga berterima kasih kepada Komsos Paroki St. Petrus Langowan yang sudah menggunakan lagu Komuni Batin dalam pelayanan Misa Live Streaming di gereja dua pekan terakhir ini,” tutupnya.
(Frangki Wullur)
Berikut ini link lagu Komuni Batin di Youtube:
