Bolmong Raya

Opini: Mengupas Fakta Pembangunan dan PR di Usia ke-15 Kabupaten Bolmut

Bermodalkan tenaga sendiri dan simpanan secukupnya, AH berusaha menjalani proses pembersihan lahan, penananam, pemupukan, sampai pemanenan. Walaupun, saat melewati tahapan itu, AH harus berhutang karena mahalnya harga bibit dan pupuk.

Berharap rezeki lebih di balik upaya itu, jangankan untung atau balik modal, kerugian malah dialami AH yang telah membuang tenaga dan waktunya selama 4 bulan. Inilah nasib petani Bolmong Utara tanpa sentuhan penguasa.

Sudah kesusahan mendapatkan bibit dan pupuk, ditambah lagi pasaran hasil panen yang tak jelas karena naik turunnya harga. Masalah ini disebabkan hasil panen sebagian besar harus dijual ke daerah tetangga. Maklum, kita tak mempunyai gudang yang bisa memfasilitasi hasil penen petani Bolmong Utara.

Padahal, kalau saja negeri ini mau menaikkan kelas dan strata sosial petani, ada upaya membuat badan usaha daerah. Manfaatnya bukan saja pada petani, melainkan akan menambah pendapatan asli daerah.

Bahkan, yang lebih parah, media lokal memberitakan tidak ada anggaran pupuk untuk petani Bolmong Utara. Itu pada 2019 silam dan hanya ada Pembangunan Unit Pengolahan Pupuk Organik Rp375.000.000.

Sementara tahun 2020, hanya ada Rp512.722.000. Satu tahun setelahnya (2021), malah tidak ada sama sekali. Beruntung, masuk di era 2022 ini, disediakan Rp2.811.760.000.

Namun, angka itu tak sesuai dengan jumlah petani yang masuk dalam kebutuhan kelompok pada tahun 2021 yang berjumlah 7.988 orang. Inilah fakta pembangunan pertanian di Kabupaten Bolaang Mongodow Utara.

Kelautan/Perikanan

“Kalau bicara untuk kesejahteraan nelayan pak, sampai saat ini tidak ada. Untung pemerintah desa kasih bantuan mesin ada 15 orang,” kata Udin (50) warga Desa Boroko Timur, Kecamatan Kaidipang.

Udin sudah 20 tahun bertaruh nyawa di lautan lepas untuk memenuhi kebutuhan anak dan isterinya. Beberapa kali mendengarkan janji dari pemerintah daerah dan berharap mengenai bantuan fasilitas, tetapi tak kunjung tiba.

“Kalau nelayan lain sama sekali tidak ada bantuan. Saya pribadi, pak, bersyukur walaupun sudah puluhan tahun ini, baru satu kali dikasih bantuan,” ucap Udin saat ditemui di pesisiran Pantai Batu Pinagut.

Inilah satu di antara yang menjadi penghambat kemajuan perikanan/kelautan di Bolmong Utara. Dukungan fasilitas sulit didapatkan. Kalau pun ada, penyaluraannya belum terarah dan inilah fakta yang sebenarnya.

Padahal, salah satu potensi besar yang dapat dikelola di Bolmong Utara adalah bidang kelautan dan perikanan. Pasalnya, daerah ini memiliki garis pantai sepanjang 174 KM dengan luas wilayah laut 54.740 Ha.

Potensi budi daya laut kita yakni 5.678 Ha dan Terumbu karang kita yakni 1.546.790 Ha. Catatan sementara (2018) terdapat nelayan sebanyak 9.010 jiwa.

Catatan media menyampaikan berdasarkan data Dinas Kelautan dan Perikanan Bolmut, produksi perikanan tangkap laut pada tahun 2018 mencapai 1928,40 ton. Produksi itu turun jika dibandingkan tahun 2017 yang mencapai 3517 ton.

Bagaimana tahun 2022 ini? Apalagi aktivitas ilegal dari pengeboman ikan kian marak dan belum ada penindakan tegas dari pihak yang berwenang. Hal bikin kesal, perbuatan itu dilakukan orang-orang dari luar. Mereka hanya mau cari untung dan merugikan, bahkan, merusak ekosistem kelautan di perairan Bolmong Utara.

Kita harus berbenah. Karena jika potensi pembangunan kelautan/perikanan Bolmong Utara dikelola dengan baik, masif, dan inovatif, maka dipastikan akan menjadi salah satu sumber modal pembangunan dan pendapatan.

Hal yang utama adalah memberikan manfaat bagi nelayan dan pemerintah daerah. Apalagi kalau dibuatkan pabrik pengelolaan ikan. Tentu nelayan kita di Bolmong Utara akan sejahtera, makmur, bahagia dan sentosa.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara