Disamping hal diatas, peristiwa pengeboman tentara Jepang pada gereja pertama di Desa Amongena sektiar tahun 1942 – 1945 juga menyisahkan sejumlah pertanyaan, dimana benda-benda liturgi dan berbagai aksesoris interior gereja berbahan logam kemungkinan masih tertimbun di dalam tanah yang saat ini ditinggali oleh Bodeweyn Ventje Londah.
Beliau pernah menuturkan sekitar tahun 1972, ia pernah menggali lubang di belakang rumah untuk membangun WC dan ditemukan sebuah benda seperti piala atau sibori (tempat hosti) dan kemenyan yang sudah menggumpal, akan tetapi temuan tersebut saat ini sudah tidak diketahui keberadaannya.

Jika melihat wujud fisik interior gereja khususnya bagian altar sebagaimana dalam buku St. Claverbond edisi tahun 1906 yang dipublikasikan Pater Petrus Antonius Wintjes SJ, yang memungkinkan tertinggal puing yaitu salib, vas bunga, tempat lilin dan tabernakel serta beberapa bagian dari meja altar itu sendiri.
Dalam perkembangannya, pada rentang waktu sekitar tahun 1945 hingga 1955 sebelum pemabngunan gereja di lokasi yang baru (Desa Koyawas), ada pertanyaan dimanakah umat Katolik waktu beribadah dan merayakan Ekaristi.

Secara tidak terduga, ditemukan sebuah rumah tua di Desa Waleure milik Keluarga Maindoka – Pangau, dimana menurut kesaksian Ibu keluarga Baby Pangau dan anak-anaknya, bahwa salah satu bagian dari rumah tersebut dulunya pernah digunakan oleh Pastor Belanda untuk Misa.
Bahkan kesaksian tersebut didukung dengan adanya peninggalan benda-benda rohani seperpti salib kayu kecil dengan korpus diduga terbuat dari tembaga, gambar ukuran besar (sektiar 24R) Bunda Maria kanak-kanak Yesus, kain beludu dengan gambar Bunda Maria dan kanak-kanak Yesus dan salib berukuran besar.
Demikian juga dengan proses pembangunan gereja di lokasi saat ini, siapa saja yang terlibat dan bahan-bahan apa saja yang digunakan, semuanya masih menjadi berupa misteri, akan tetapi masih ada harapan, karena beberapa dari para tukang dan umat yang ambil bagian dalam pembangunan pada tahun 1950-an masih bisa ditemui.

Untuk benda-benda yang berhubungan langsung dengan liturgi ada penemuan mengejutkan yaitu beberapa buah kasula berwujud seperti biola atau gitar dan puluhan stola, buku misa berbahasa latin, wiruk, tempat lilih terbuat d ari kayu dan logam kuningan, lampu tabernakel, kursi imam dan misdinar, dokumen-dokumen pernikahan, patahan korpus bagian kaki, salib kayu ukuran besar hingga catatan baptisan.

Yang terbaru, lonceng gereja yang saat ini digunakan menurut kesaksian dari Kostor Herry Walangitan sudah berusia hampir 700 tahun, karena pada sisi luar ada tulisan tahun 1362 dan itu artinya sampai pada tahun 2020 ini sudah berusia 658 tahun.
“Bagus juga jika dilakukan penelitian lebih mendalam tentang lonceng tersebut. Bukan tidak mungkin ada data sejarah yang bisa dijadikan rujukan atau referensi untuik penelusuran sejarah perkembangan Gereja St. Petrus Langowan,” ujarnya.
Terkait semua temuan dan informasi dari berbagai sumber, Seksi KOMSOS Paroki St. Petrus Langowan telah merencanakan program dokumentasi sejarah melalui penulisan buku sejarah, melalui upaya-upaya pendukung yang telah dan akan terus dilakukan dilakukan dengan durasi waktu yang tidak ditentukan.
(Frangki Wullur)
