Agama dan Pendidikan

Menggali Kembali ‘Puing-puing’ Sejarah Gereja Katolik St. Petrus Langowan

Menggali Kembali ‘Puing-puing’ Sejarah Gereja Katolik St. Petrus Langowan
Gereja dan umat Katolik St. Petrus Langowan sekiar tahun 1896

Langowan, BeritaManado.com — Rentetan peristiwa sejarah perkembangan Gereja Katolik St. Petrus Langowan saat ini bagaikan puing-puing yang tertimbun tanah di banyak tempat dan harus digali serta disusun kembali menjadi satu mata rantai yang saling berhubungan.

Sejatinya, ada begitu banyak tanda Tanya yang masih terus menjadi misteri belum terpecahkan, akan tetapi pada kesempatan ini hanya diambil beberapa sampel atau contoh saja sebagai petunjuk penelusuran sejarahnya tanpa mengesampingkan yang lain.

Untuk itulah berbagai upaya dilakukan Seksi Komunikasi Sosial (KOMSOS) Paroki St. Petrus Langowan untuk merekonstruksi kembali peristiwa-peristiwa tersebut agar bisa menjadi cerita masa lampau yang pantas dibanggakan sepanjang masa.

Jika dihitung dari momentum pembaptisan pertama yang tercatat yaitu 19 September 1868, umat Katolik Paroki St. Petrus Langowan di tahun 2020 ini akan genap berusia 152 tahun.

Adalah seorang awam pensiunan tentara KNIL asal Minahasa Daniel Mandagi yang memulai semuanya itu dengan surat kepada Uskup Batavian Mgr. Petrus Maria Vrancken Pr untuk meminta seorang imam datang ke Langowan untuk membaptis anaknya Agustinus Demol Mandagi.

Menggali Kembali ‘Puing-puing’ Sejarah Gereja Katolik St. Petrus Langowan
Pater Johanes de Vries SJ

Hasilnya tidak mengecewakan, tanggal 18 September 1868 seorang misionaris Jesuit bernama Pater  Johanes de Vries SJ tiba di Langowan setelah beberapa hari sebelumnya mendarat di Pelabuhan Kema dan melakukan pembaptisan disana.

Menurut penelusuran sejarah Seksi KOMSOS Paroki St. Petrus Langowan, saat tiba di Langowan, Pater Johanes de Vries SJ menumpang di rumahnya seorang Pendeta Protestan bernama Abraham Obesz Schaafma.

Dalam tulisan tangan Daniel Mandagi yang ditemukan di kediaman Ketua Stasi Tincep Jopi Kojo, pada salah satu bagian tertulis bahwa Pater Johanes de Vries menunjukkan surat permintaan Daniel Mandagi yang pernah dikirimkan kepada Uskup Vrancken waktu itu.

Menggali Kembali ‘Puing-puing’ Sejarah Gereja Katolik St. Petrus Langowan
Gereja Katolik St. Yusuf Ambarawa

Ini adalah salah satu hal yang perlu digali kembali, kira-kira dimana surat tersebut, apakah saat ini berada di Keuskupan Agung Jakarta, Provinsialat Serikat Jesus Semarang atau bahkan di Gereja Katolik Paroki St. Yusuf Ambarawa (tempat pelayanan terakhir Pater Johanes de Vries SJ).

Pater Johanes de Vries SJ meninggal dunia pada 26 Maret 1887, akan tetapi hingga kini, belum ditemukan jejak makam sang misionaris, mulai dari wilayah Muntilan hingga ke Ambarawa sendiri.

Kepala Bagian Arsip Provinsialat Serikat Jesus Indonesia  Romo Windar Santoso SJ pada September 2019 lalu pernah mengatakan bahwa pihaknya masih terus berupaya untuk mencari informasi lokasi makam Pater Johanes de Vries SJ.

Menggali Kembali ‘Puing-puing’ Sejarah Gereja Katolik St. Petrus Langowan
Catatan baptisan yang diduga milik dari Daniel Mandagi

Selain itu, catatan baptisan yang diduga kuat milik Daniel Mandagi ditemukan di Gereja Katolik Paroki Sta. Perawan Maria Diangkat Kesurga, Kepanjen di Surabaya, Minggu (15/9/2019).

Berkat bantuan pagawai sekkretariat paroki Kusnadi, diperoleh data catatan baptisan nomor 141 atas nama Jonas Daniel Rompoly kelahiran Langowan (Menado) tahun 1827 (berbeda dengan yang tertulis pada pusara Daniel Mandagi di Amongena, dimana ia dilahirkan tanggal 2 Agustus 1815) dan baptisannya tercatat pada tanggal 19 Juni 1850.

Nama kedua orangtua Daniel Mandagi juga tidak tertulis dan dalam catatan baptisan itu hanya ada tulisan parentum infidelium yang artinya orangtua yang belum menganut kepercayaan Kristiani, akan tetapi wali baptisnya adalah Josephus Antonius Buarradel.

Catatan baptisan kedua yang ditemukan bernomor 175 atas nama Eleutherus Rompoly Mandagie (kelahiran Surabaya, 2 oktober 1853) tertanggal 9 Oktober 1853 di Surabaya, dimana orangtuanya tertulis legitimus Jonas Daniel Rompoly Mandagie dan Laurine Mariae Nonho.

Dari temuan tersebut, kemungkinan besar Daniel Mandagi sudah pernah menikah sewaktu dinas militer di Surabaya serta daerah sektiarnya sebelum pulang kembali ke Langowan dan menikah dengan Tentji Londah.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara