
Penulis: Frangki Wullur I Langowan
Langowan ternyata tidak hanya menyimpan kisah sejarah perkembangan penyebaran agama Kristen, namun ada juga hal-hal yang berhubungan dengan kearifan lokal dan budaya.
Dari penelusuran BeritaManado.com didapatkan informasi bahwa tanaman kopi juga turut mencatatkan sejarahnya dalam kehidupan masyarakat Langowan zaman dahulu.
Desa Kopiwangker adalah salah satu kampung yang memiliki hubungan erat dengan eksistensi tanaman kopi.
Desa Kopiwangker saat ini berada dalam wilayah administratif dan pemerintahan Kecamatan Langowan Barat (wilayah terluas di Langowan Raya).
Dari namanya saja sudah bisa ditebak bahwa di desa tersebut banyak terdapat tanaman kopi dengan ukuran buah dan pohon yang besar.
Dengan ketinggian kurang lebih 748 mdpl, Desa Kopiwangker menjadi salah satu wilayah penyumbang produksi kopi di Minahasa.
Nama Kopiwangker sendiri jelas terdiri dari dua kata, yaitu Kopi (tanaman kopi) dan Wangker (besar, luas, megah).
Jadi secara umum dapat diterjemahkan nama Kopiwangker sebagai daerah perkebunan kopi yang besar.
Meski belum diperoleh dokumen akademik terkait etimologi nama Kopiwangker, namun informasi tersebut lebih merujuk pada pemaknaan lokal yang diwariskan masyarakat desa setempat secara turun-temurun.
Secara historis, wilayah Langowan sendiri punya hubungan erat dengan tanaman kopi, dimana jejaknya tersebar di beberapa desa seperti Sumarayar, Noongan, Raringis, Ampreng dan Tumaratas.
Sekitar abad ke-19 sampai awal abad ke-20, tanaman kopi menjadi salah satu komoditas utama di Minahasa saat pendudukan Belanda.
Maka dari itu, ada kemungkinan nama Kopiwangker lahir dari identitas wilayah sebagai area perkebunan kopi yang luas pada masa itu.
Adapun jejak tanaman kopi di Langowan termasuk Desa KopiWangker, bahwa saat itu Belanda mewajibkan untuk menanam kopi.
Untuk melakukan pengawasan terhadap perkebunan kopi di Minahasa termasuk Langowan, Belanda bahkan sampai mendatangkan mandor dari Jawa.
Tanaman kopi itu sendiri mengalami perkembangan dari Minahasa bagian tengah pada awal tahun 1800-an.
Sejarah menyebutkan, bahwa budidaya tanaman kopi di wilayah Minahasa Tengah mengalami perkembangan yang sangat epsat sejak tahun 1809 dan di tahun 1817, tercatat ada sekitar 80 ribu pohon kopi di wilayah yang membentang dari Kawangkoan hingga Langowan.
Masyarakat Minahasa pun mulai menanam kopi pada pertengahan abad ke-19
