
Penulis: Frangki Wullur I Langowan
Kejayaan tanaman kopi di Minahasa khususnya wilayah Langowan saat ini sudah tidak lagi sama seperti dahulu saat Belanda masih berkuasa di Indonesia.
Yang ada saat ini hanyalah sisa-sisa jejak pohon kopi yang benihnya diduga kuat dibawa Belanda saat melakukan ekspedisi perdagangan ke Nusantara melalui organisasi dagang VOC pada abad ke-19.
Bukan Arabika maupun Robusta, namun pohon kopi yang berdiri tegak dan menjadi satu-satunya di wilayah Desa Sumarayar ini diduga kuat berjenis Liberika.
Dugaan ini bukan tanpa alasan, karena melihat sejarah dunia saat Belanda melakukan ekspedisi internasionalnya, diketahui dari beebrapa sumber literatur, Belanda melewati wilayah pantai dan laut barat dan selatan Benua Afrika.
Salah satu tokoh yang melakukan ekspedisi tersebut yaitu Cornelis de Houtman yang pelayarannya menyusuri sisi selatan pantai Benua Afrika dan demikian juga dengan ekspedisi-ekspedisi Belanda selanjutnya.
Meski dalam sejarahnya Liberia tidak pernah dijajah Belanda secara langsung, namun diduga kuat terkait dengan keberadan pohon kopi di Desa Sumarayar Kecamatan Langowan Timur.
Penelusuran BeritaManado.com, Jumat (22/5/2026) menemukan keterangan bahwa pohon kopi yang ada di Desa Sumarayar itu itu memiliki kesamaan dengan ciri-ciri dari Kopi Liberika.
Salah satu karakteristik yang paling menonjol Kopi Liberika (Coffea liberica) yaitu ukuran pohonnya lebih tinggi dan besar dari pohon kopi jenis lain seperti Arabika dan Robusta.
Selain itu, ciri lain yang khas yaitu ukuran buahnya lebih besar dari jenis lain serat agak lonjong dan tak jarang dijuluki kopi jumbo.
Yang ditemukan di Desa Sumarayar ukuran pohonnya sekitar diatas 6 meter dan dari pangkal pohon seperti ada lima cabang besar yang menjulang ke atas.
Melihat kondisi pohon yang memiliki cabang berukuran besar ini, sepertinya dulunya pohon kopi tersebut pernah dipotong dan kembali mengeluarkan tunas baru.
Sayangnya, saat BeritaManado.com berada di lokasi pohon kopi tersbeut tidak ada banyak buah yang terlihat, melainkan hanya beebrapa buah yang sudah matang berwarna merah dan yang sudah kering.
Meski nama besarnya tidak seperti Arabika dan Robusta, namun Kopi Liberika tetap memiliki ciri khas yang unik, yaitu aroma kuat, floral dan tak jarang seperti nangka.
Dari segi rasa, Kopi Liberika punya aftertaste yang panjang dengan kadar kafein 1,2 – 1,5 persen atau berada di tengah antara Arabika dan Robusta.
Populasinya juga jarang ditemui karena hanya sekitar 1-2 persen dari produksi kopi dunia, dimana untuk urusan panen, petani pasti akan agak menemui kesulitan karena ukuran pohonnya tinggi dan besar.
Di Indonesia sendiri, Kopi Liberika beebrapa titik yang menjadi pusat budidaya ada di wilayah Bengkayang Kalimantan Barat, Riau, Jambi serta Jawa Barat dan mungkin di beberapa tempat di Minahasa termasuk Langowan.
Meski demikian, Kopi Liberika layak untuk diangkat kembali sebagai simbol sejarah yang telah berusia ratusan tahun.
