
Manado, BeritaManado.com — Sulawesi Utara tengah memasuki babak baru dalam dinamika politiknya.
Setelah tiga periode berturut-turut menguasai kursi gubernur—dimulai dari Sinyo Harry Sarundajang (1 periode) dan Olly Dondokambey (2 periode)—PDIP akhirnya merasakan pahitnya kekalahan dalam Pilgub terakhir, di mana Yulius Selvanus dari Partai Gerindra keluar sebagai pemenang.
Kekalahan ini, menurut pengamat politik kemasyarakatan Stefan Voges SH MH, adalah momentum yang tepat bagi PDIP Sulut untuk berbenah.
“Efek politik nasional memang tak bisa dipisahkan dari kondisi lokal. Kekalahan PDIP di Pilpres lalu sempat mengguncang, bahkan kursi ketua umum sempat digoyang. Namun pasca kongres, PDIP kembali segar dan solid. Kesempatan ini harus dimanfaatkan untuk konsolidasi di semua tingkatan, termasuk Sulut,” ujarnya.
Olly Dondokambey dan Standar Tinggi Ketua DPD
Menurut Voges, Olly dibutuhkan lebih fokus pada tanggung jawab besar di tingkat pusat. Itu berarti, cepat atau lambat, estafet kepemimpinan di Sulut harus disiapkan.
Nama-nama besar pun mulai bermunculan sebagai calon pengganti: Andi Silangen, Steven Kandouw, Andrei Angouw, Joune Ganda, James Sumendap, Frangky Wongkar hingga Maurits Mantiri.
Mereka semua adalah politisi papan atas dengan rekam jejak panjang, dari legislatif, kepala daerah hingga pimpinan partai.
Namun persoalannya, kata Voges, standar yang sudah dibangun Olly Dondokambey terlalu tinggi.
Dari pengaruh politik nasional, relasi dengan DPP hingga kekuatan finansial, belum ada kader yang benar-benar mampu menyamai figur Olly.
“Ketika Olly menjadi ketua DPD, itu sekaligus menjadi ‘handicap’ bagi partai. Karena sulit mencari kader lain yang setara dengannya,” jelas Voges.
PDIP Sulut Butuh Matahari Baru
PDIP Sulut, lanjut Voges, ibarat sebuah galaksi dengan banyak bintang.
Namun, semua bintang tetap membutuhkan satu matahari sebagai pusat gravitasi.
Selama ini, peran itu dimainkan Olly Dondokambey.
Jika Olly melepas kendali tanpa menyiapkan pengganti, maka bintang-bintang itu berpotensi tercerai-berai.
“Ini berbahaya. Lawan politik bisa saja memanfaatkan kelemahan itu dengan strategi divide et impera. Bahkan tanpa intervensi lawan sekalipun, PDIP bisa terkoyak dari dalam. Karena itu, Olly tidak boleh begitu saja meninggalkan DPD Sulut. Ia harus menyiapkan sosok yang mampu menjadi Matahari Baru,” tegas Voges.
Jawabannya: Rio Dondokambey
Dalam pandangan Voges, hanya ada satu figur yang paling tepat mengemban tugas berat tersebut—Rio Dondokambey.
“Rio bukan hanya anak dari Olly, tetapi juga kader muda yang lahir dan besar di lingkungan PDIP. Ia memiliki kedekatan emosional dengan para kader, memahami denyut organisasi sejak dini, dan punya energi segar untuk menyatukan bintang-bintang besar di tubuh partai. Dialah figur yang bisa tumbuh menjadi matahari baru, melanjutkan legacy Olly Dondokambey, dan menjaga soliditas PDIP Sulut ke depan,” pungkas Voges.
Rio dipandang sebagai representasi generasi baru PDIP Sulut, yang mampu menjembatani senioritas kader lama dengan semangat anak muda yang haus perubahan.
