Berita Utama

Menari Dalam Kasih, Bertumbuh Sebagai Keluarga: Catatan Manis Satu Tahun TCD Sulut

Menari Dalam Kasih, Bertumbuh Sebagai Keluarga: Catatan Manis Satu Tahun TCD Sulut

Penulis: JenlyWenur | Manado

Pesisir Tambala, pada Minggu (9/8/2026), tampak lebih hidup dari biasanya dan dipenuhi dengan gelak tawa, pelukan hangat, serta riuh kebersamaan, saat ratusan anggota The Collective Dance (TCD) Sulawesi Utara berkumpul bersama keluarga mereka.

Bukan sekadar selebrasi penambahan usia dari 9 Agustus 2025 menuju 9 Agustus 2026, momen sore itu adalah wujud nyata dari sebuah perjalanan panjang, membuktikan bahwa TCD bukan sekadar wadah menyalurkan hobi menari, melainkan rumah kedua tempat ratusan kepala menyatu dalam satu ritme.

ADVERTISEMENT

Menyatukan ratusan orang dengan latar belakang berbeda jelas bukan perkara mudah.

Hal ini diakui betul oleh Sekretaris KORMI Sulut, Coutje Rumampuk, S.Sos.

Menurutnya, tantangan terbesar dalam mengendalikan wadah besar adalah menyatukan beragam pikiran menuju satu arah yang sama.

“Tantangan Ketum TCD, Ibu Everdina, adalah bagaimana menyatukan pikiran agar tetap satu tujuan. Puji syukur, perjalanan TCD selalu beralaskan kasih. Dengan kasih dan kepemimpinan yang ramah serta murah senyum, semua dinamika bisa dilewati,” ungkap Coutje.

Ia juga kembali mengingatkan filosofi lokal yang sederhana namun mendalam, yakni “baku-baku bae”, saling mengasihi dan menjaga komunikasi positif demi kemajuan bersama.

Energi positif itu memang terpancar jelas dari sosok sang Ketua Umum, Everdina Tangapo.

Dengan senyum, ia mengutarakan rasa syukurnya melihat antusiasme anggota yang tak pernah surut hingga organisasi ini menginjak usia satu tahun.

Menari Dalam Kasih, Bertumbuh Sebagai Keluarga: Catatan Manis Satu Tahun TCD Sulut
Kekompakan TCD Sulut di bawah pimpinan Ketum Everdina Tangapo saat meniup lilin ulang tahun pertama.

Bagi Everdina, TCD adalah panggung kebersamaan, bukan ajang untuk saling mengungguli.

“Di dalam TCD kita itu satu keluarga, tidak ada persaingan. Apapun tantangannya, mari kita berembuk cari solusi. Saya relakan waktu dan tenaga demi wadah ini. Mari kita belajar ‘sapu dada’, jangan mudah tersinggung, dan tetap bersatu jaga kekompakan,” pungkas Everdina hangat.

Perjalanan hingga mencapai 200-an anggota seperti sekarang tentu meninggalkan banyak cerita berkesan.

James Kojongian, penggagas TCD, mengenang kembali obrolan-obrolan awal bersama Ibu Dina dan para pendiri lainnya.

Dari diskusi kecil itulah TCD lahir, tumbuh, dan perlahan menancapkan eksistensinya di Sulawesi Utara.

“Tanpa Ibu Ketum, kita tidak akan sampai di titik ini. Kami bersyukur, meski datang dari latar belakang yang berbeda-beda, kita bisa bersatu di TCD. Kekurangan di tahun pertama akan kita benahi bersama agar di tahun-tahun mendatang TCD bisa makin eksis dan jaya,” ujar James optimis.

Sore di Tambala pun ditutup dengan optimisme baru.

Di bawah naungan angin pantai dan rasa kekeluargaan yang erat, The Collective Dance siap melangkah lebih jauh, terus menari, merawat kasih, dan menginspirasi.