
MANADO – Segera dihentikannya subsidi minyak tanah, membuat Pemkot Manado terus mensosialisasikan penggunaan kompor gas kepada masyarakat. Hal ini juga yang diutarakan Wali Kota Manado, Dr GS Vicky Lumentut, di sela-sela sidak ke Supermaket, akhir pekan.
Pada kesempatan itu Vicky, menyatakan, masyarakat harus membiayakan diri memasak dengan menggunakan kompor gas. ”Soal masih ada masyarakat yang belum mendapatkan paket kompor gas gratis, kami akan koordinasikan ke PT Pertamina agar paket Kompor gratis ini ditambah, ”ujar Lumentut.
Dia menegaskan, bahwa konversi dari minyak tanah ke gas ini sudah merupakan program nasional yang harus diikuti seluruh masyarakat. Karena minyak tanah bersubsidi tinggal berlaku hingga bulan Januari, sehingga mau tidak mau masyarakat harus segera beralih menggunakan kompor dengan bahan bakar gas.(del)

Masyarakat hrs diberikan pengertian/sosialisasi lebih rinci, bahwa tabung gas aman utk digunakan, krn banyak yg tdk mengambil kompor & tabung gratis.
setuju pak Luther…pangkalan hanya menjual 2000 liter ke masyarakat..sisanya di jual ke restoran dan hotel dgn harga rp 4000-5000…Buat pemerintah & pertamina..khusus kota Manado..stop pasok minyak tanah ke pangkalan…segera lakukan operasi pasar…
Pencabutan subsidi bbm itu sudah semenjak menjelang ahir pemerin
tahan Suharto sehingga terjadi protes besar besaran dan chaos.
Menurut pandangan economist baik national maupun international subsidi
ini banyak menggerogoti anggaran belanja pemerintah yang sebetulnya bisa
digunakan untuk pembangunan infrastruktur. Demikian juga saran IMF waktu
itu. Krena yang paling banyak menggunakan bbm dan listrik yang disubsidi
adalah orang2 kaya yang memiliki mobil2 pribadi, AC, kulkas dsb.
Padahal rakyat kecil paling hanya untuk memasak listrikpun mungkin hanya
untuk sekedar penerangan/TV.
Untuk jangka panjang kalau memang uang subsidi uni digunakan untuk ke
pentingan rakyat kecil misalnya keringanan untuk angkutan umum yang selalu digunakan rakyat, tambahan raskin, pengobatan orang kurang mampu
dsb. dan selebihnya untuk infrastruktur/jalan/jembatan mungkin akan bisa di
mengerti dan disosialisasikan dengan baik dan bertahap. Jangan seolah
olah dipaksakan lebih cepat pelaksanaannya yang ahirnya menimbulkan
kekecewaan masyarakat.
Demikian juga pemakaian kompor gas sebetulnya sudah lama digunakan
di mana mana di dunia dan aman asal digunakan dengan baik, apa lagi
kita mempunyai sumber gas yang cukup banyak.
Kejadian ledakan2 yang lalu sangat disesalkan yang tidak seharusnya terjadi
karena kurang sosialisasi Pertamina dan pengawasan terhadap kelengkapan
seperti selang/stabilizer murahan yang tidak memenuhi syarat .
Kalau memang keputusan secara national dan uang subsidi yang dicabut
digunakan untuk kepentingan kita semua dan lebih memihak rakyat kecil
yah apa boleh buat torang lihat jo !!!
Berhati hati2 jo!! ikuti petunjuk dengan baik penggunaan kompor gas toh
nantinya akan terbiasa.
Selamat memasak !!!!
ITU KOMPOR GAS BAGUS….CUMA KAN SKARANG ORANG-ORANG LAGI MENGHADAPI HARI RAYA NATAL DENG TAHUN BARU..MUNGKIN STOW DORANG SO ADA KOMPOR GAS…MAR KARNA MASAK LEBIH JADI DORANG TAMBAH PAKE KOMPOR MINYAK TANAH…
..
…NANTI JO TAHUN DEPAN TORANG PAKE ITU KOMPOR GAS…ASAL JANG KASE ITU MODEL POLOTE-POLOTE….
Subsidi minyak tanah dicabut ? no problem karena berapapun harga yang akan ditetapkan oleh pemerintah pasti dibeli oleh masyarakat asalkan stock minyak tersebut tetap tersedia (buktinya ; harga minyak tanah dipasar-pasar di patok dengan harga Rp. 10.000,-/liter namun tetap dibeli leh masyarakat mengapa ? karena “KEBUTUHAN”)dan kalau bisa jangan menggunakan sistim pangkalan lagi karena hanya orang tertentu yang menikmati keuntungannya.. biarlah seperti pada jaman 1980-an, minyak tanah dijual langsung kewarung-warung.