Berita Utama

Krisis Kepercayaan di Bursa: Ketika Dunia Mulai Meragukan Pasar Modal Indonesia

Kondisi ini menciptakan likuiditas semu.
Di atas kertas tampak ramai, namun pada praktiknya sepi. Dampaknya jelas.

MSCI seolah mengatakan, “Kami tidak percaya data kalian.”

Akibatnya, investor asing yang menguasai sekitar 40–45 persen dana di pasar modal domestik tidak memiliki pilihan selain hengkang.

2. Respons Pemadam Kebakaran OJK dan BEI

Sore ini, media seperti Bisnis Indonesia dan Kontan.co.id (29/1/2026) melaporkan bahwa Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) akan memanggil pimpinan emiten berkapitalisasi besar untuk klarifikasi.

Regulator juga menjanjikan pelaksanaan audit kepatuhan sebagai upaya melobi MSCI.

Sebagai praktisi hukum dan pengamat kebijakan, langkah ini saya nilai lebih menyerupai tindakan pemadam kebakaran, bukan arsitek bangunan.

Langkah tersebut bersifat reaktif dan terlambat.

Mengapa audit baru dilakukan setelah dunia internasional berteriak soal ketidakberesan?

Kepercayaan global tidak dapat dibeli kembali hanya dengan rapat darurat semalam.

Kerusakan yang terjadi sudah bersifat sistemik.

3. Bahaya Menyepelekan Masalah

Di tengah badai pasar pada Rabu lalu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan pernyataan yang dikutip CNBC Indonesia dan Bloomberg Technoz.

“Ini kan masih shock. Biasanya dua sampai tiga hari sudah selesai.Ini waktu yang baik untuk membeli.”

Pernyataan tersebut tentu dimaksudkan untuk menenangkan pasar.

Namun, bagi analis, pernyataan ini berpotensi menjadi simplifikasi yang berbahaya.

Menganggap persoalan struktural dapat selesai dalam dua hingga tiga hari berisiko menimbulkan kesan kurangnya sense of crisis.

Faktanya, pasar hari ini masih tertekan.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara