
MANADO – Terkait rencana Rektorat Unsrat akan mempidanakan Ketua Forum Diskusi Ilmiah Mahasiswa (Fodim) Unsrat, Donis Katengar, terkait pernyataannya di sejumlah media massa soal dugaan korupsi Unsrat, disesalkan pengamat politik Sulut, Taufik Tumbelaka.
“Ini alam demokrasi, pendapat itu harus dihargai, apalagi Donis hanyalah
mahasiswa yang ingin menyalurkan idealismenya, jadi kenapa harus dipidanakan,” ujar Tumbelaka.
Soal merasa dilecehkan, Tumbelaka menjelaskan apa yang dilecehkan, Donis hanya menduga bukan menuduh, menurutnya kenapa pihak rektorat harus takut.
“Rektorat harus belajar soal demokrasi, kampus adalah tempat akademisi, jadi yang dikedepankan debat pemikiran bukan sikap arogansi seperti yang ditunjukkan rektorat. Udah kaya jaman Soeharto saja,” tandas alumnus UGM ini. (is)

Komentator yth.
Saya tanya ke salah seorang yang mengatur disiplin mahasiswa Unsrat. Menurutnya, di Unsrat ada mekanisme bagi Donis untuk mengajukan peninjauan kembali kepada rektor atas sangsi yang telah dijatuhkan bila yang bersangkutan merasa keberatan.
Mungkin sebaiknya kita mempelajari baik2 dulu titik dan latar belakang permasalahan yang berkaitan dengan kasus Donis, disatu sisi, dan aturan kemahasiswaan Unsrat di pihak lain, agar kita bisa memberikan komentar yang akuntabel.
Untuk pimpinan dan dosen2 Unsrat, marilah kita membimbing mahasiswa2 Unsrat menjadi pribadi2 yang kritis namun bertanggungjawab atas setiap tingkah-ujar mereka.
Jadilah mahasiswa2 Unsrat yang kritis, bertanggungjawab dan SANTUN.
Jbu.
Tuhan Memberkati Usaha kita semua.
Woi jang bagitu! masih ada dosen2 mantap di unsrat, jang pukul rata
so butul unsrat pwe kelakuan , mahasiswa deng dosen caparuni. …
ini berita so lumayan lama, sayang qta baru baca. ini T.A rupa ‘jago bacod’ sekali dia noh, baru mahasiswa so model begini pake acara mo ‘mengajar’ lagi for torang2. nda salah memang ngana pe tamang dapa skors, bagus lei dgn ngana satu kali. nih tumbelaka satu kali jadi pengamat trafficking dgn illegal logging jo, ‘basudara’ kwa dorang. hahahahaha
Ini biasa yang banyak menyudutkan UNSRAT pasti orang yang sakit hati…bisa aja kecewa karena nda dapat posisi…bos-bos kalu gentel kase tunjung identitas…so dapa lia toh tu mental…pengecut. Maju Unsrat…Maju Pak Rektor.
Cuman penasaran aja. Kalo baca2 di media, sepertinya Pak Taufik adalah pengamat berbagai hal. Pengamat politik, pengamat sosial, terus pemerhati politik, hukum dan pemerintahan Sulut. Belum lagi sebagai pengamat transportasi Sulut. Juga mengamati reklamasi. Banyak hal yg dikomentari. Koq kayak ‘all round’ gitu yah? Gimana kalo ditambah lagi sebagai pengamat pendidikan, pengamat sepakbola, dst. Supaya semakin lengkap.
koment nya bu gina nyasar kali,,,,chicy tau gak kalau komennya itu, sebenrnya di tujukan ama pak humas…
kan gitu kenyataannya..pak humas kayak mainan di Play station yg nanti digerakan bru jalan…hahahahahaha
kalau gitu bu gina juga dipertanyakan selesainya ibu dari perkuliahan? maksudnya kualitas ibu…ehehehehe
ibu itu terllu apatis,,knpa bnyk orng korup? karena pikiran merka sama kayak ibu yang apatis…
iya kami memng mafia mentalitas tpi mentalitas mana dulu..
mending jdi mafia mentalitas daripada mafia kasus…
emangnya kmi bodoh ya…gina jga kan inisial dri pak humas..hahaha
ada api ada asap, yaaa….kebakaran jenggot juga pasti ada asapnya. Unsrat jangan malu dong kl dikritik. Kritik (yang membangun) itu seperti kayak suplemen vitamin….pahiiiit, tapi sangat berguna bagi tubuh….
gina ini kayaknya humas rektorat, jadi membela yang bayar. wkwkwkkw
Makasih da coment. Mau USA ato TA kek, kalo sprotif pake nama beneran. Jgn pake inisial palsu. Demokrasi tu tanggung jawab. Sy jg baru slsai jd mahssw. Tp tidak kebablasan kayak kalian. Skrg bom dimana2, tu krn karya mahssw. Mending pak harto. Papa mama oma opa aman. Coba kalian jd dosen. Bisa aja jd dosen paling gak benar heheh. Unsrat maju terus. Rektorat berantas mafia mentalitas Play station yg berbaju mhssw
Ibu Gina harus banyak membaca, soalnya pengetahuannya masih terbatas… hahahahahahaa.
jadi jangan hanya suka komen…
tidak ada salahnya kan ? mediakan merupakan sarana dan merupakan pilar demokrasi wajar doank mahasiwa makai sarana media sebagai bentuk mengeluarkan pendapat, ini bukan Orba lagi bu gina. sedikit-sedikit intervensi, sedikit-sedikit intimidasi,
bu gina nanti belajar sama aku aja tentang kebebasan berpendapat mau berapa SKS? gratis bu, gak dibayar dan gk ad pungutan liarnya…
kalau bu Gina berbicara mentalitas mahasiwa yang rusak. mentalitas kami tidak rusak, tpi terbentuk menjdi mentalitas yang memahami etika, memahami bagaimana mengkritisi hal yang salah yang perlu diluruskan..
bu kalau ingin jabatan harus berusaha jgn ambil jalan pintas,,jangan menutupi kebenaran untuk sebuah kepentingan pribadi doank.
Kan ??ª saluran. Diskusi ?????? beri tau rektor langsuing, bukan nyerocos di media. Payah mentalitas ni mahasiswa. Tukang demo aja
blanga: wagh, komen seperti itu, apa karena gak mengerti maksud pak tumbelaka yagh… makanya banyak belajar jangan cuma komen.
tong kosong bunyi nyaring
demokrasi seharunya mampu di artikulasi oleh setiap elit kampus ini…
talalu banyak mulu ini org noh…. rupa ahli samua bdg…..