
Manado, BeritaManado.com — Diciptakan seorang Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC) Pastor Marcel Rarun MSC, “Alangkah Bahagianya” telah menjadi lagu universal yang sering dinyanyikan banyak orang dari lintas agama dan budaya.
Misionaris yang familiar disapa Pastor Rarun ini dikabarkan tutup usia karena sakit pada Selasa (6/7/2021) sekitar pukul 6.00 WITA di Rumah Sakit Hermana Lembean.

Kepergian sang misionaris berjiwa seni ini menjadi duka dari banyak kalangan, tak terkecuali dari lingkungan Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM).
Ungkapan hati datang silih berganti, salah satunya dari mantan Ketua Umum Pucuk Pimpinan dan Majelis Gembala KGPM Tedius Kuemba Batasina.
Kepada BeritaManado.com, Gembala Tedius Batasina mengakui secara terbuka bahwa sejatinya dirinya hampir tidak bisa menuturkan kata-kata untuk mengungkapkan kesan mengenai almarhum Pastor Rarun dan juga lagunya.
Menurut Gembala Tedius Batasina bahwa hidup bagaikan nyanyian yang terdiri dari lirik dan melodi dan Pastor Rarun telah mewujudkan sebuah ekspresi batin spiritualnya.
Lebih lanjut dikatakannya, bahwa dalam semangat misionarianya, almarhum pasti telah bergumul dalam sabda firman lewat nyanyian pemazmur.
Hikmat dan skill musikal yang Tuhan berikan kepada almarhum telah menjadikan banyak orang kembali pada firman dengan merajut serta memelihara juga merawat keberagaman menjadi sebuah kekuatan dalam kerukunan dan kedamaian.
“Selamat jalan Pastor Rarun. Engkau telah mengakhiri nyanyian kehidupan di tenda sementara. Teruslah bernyanyi dengan malaikan surgawi di tenda yang kekal dan abadi bersama sang khalik pencipta,” tutur Gembala Tedius Batasina.
Ungkapan senada juga datang dari akademisi Universitas Sam Ratulangi Manado Prof Dr Flora Kalalo SH MH.
Menurut Dekan Fakultas Hukum Universitas Sam Ratulangi ini, almarhum adalah seorang komposer lagu “Alangkah Bahagianya Hidup Rukun dan Damai”
“Lagu tersebut sangat dikenal masyarakat luas dan tidak terbatas hanya pada satu golongan agama tertentu saja. Lagu ini turut memperkuat kebersamaan masyarakat Sulut,” tuturnya.
(Frangki Wullur)
